Friday, November 7, 2014

Kay


Kucing buta saya si Toby, beranak tiga. Hasil perkawinan paksa yang di dunia manusia akan kita sebut perkosaan, karena terjadi saat Toby menyelinap keluar rumah. Sudah hampir 5 bulan saya ketambahan tiga ekor anak kucing yang memiliki rasa ingin tahu tingkat tinggi dan senang bergumul dengan brutal. Sebenarnya saya terkejut karena kehamilan Toby ini, bertahun-tahun saya vakum tidak punya anak kucing, tiba-tiba keinginan saya untuk membesarkan anak kucing terkabul, saya malah diberi tiga!
Tiga ekor anak kucing itu saya beri nama Kay, Keane dan Lilly. Dua pertama jantan, si kecil Lilly betina. Jangan tanya saya filosofi nama mereka, karena sepanjang karir saya memelihara kucing saya menamai hanya berdasarkan kata petama yang terlintas di kepala saat pertama melihat mereka. Pernah dulu salah satu anak kucing saya namai Megan karena saat itu Megan Fox terngiang di kepala saya, dan well yeah bayi kucing jelas tidak seseksi itu dan tentu tidak akan tumbuh seksi, jadi memang tidak ada maksud dan harapan di balik nama itu.
Saya pernah memelihara 5 ekor anak kucing sekaligus, tapi tidak lama hidup dengan saya karena selepas menyusui di usia 3-4 bulan, mereka saya lepas untuk dibarter dengan uang. Toby merupakan satu-satunya anak kucing yang tetap tinggal dengan saya sampai sekarang usianya sekitar 7 tahun. Saya benar-benar lupa rasanya tinggal dengan anak kucing! Tapi percayalah, it was very good days. Mengamati mereka tumbuh dan seakan fast forward tiba-tiba sudah besar bisa berlari sana-sini padahal baru rasanya kemarin mereka belajar merangkak keluar dari keranjang si mama. Memang tidak se-wah saat membesarkan anak manusia, tapi hewan didesain untuk secepat itu mandiri, dalam hitungan bulan 3 ekor bayi kucing mirip tikus itu sekarang sudah bisa berkompetisi dengan mamanya merebut potongan kerupuk yang saya lempar setiap kali saya makan di meja makan ditunggui 4 ekor gumpalan kapas dengan mata memelas, kecuali Toby si mama, soalnya dia buta.
2 ekor resmi saya tawarkan untuk dibarter dengan uang, Keane dan Kay. Lillypad si betina kecil saya putuskan untuk tinggal menemani Toby si mama, yang meski pun dia super penakut dan eksistensinya di rumah lebih banyak dihabiskan diam di kolong sofa, setidaknya, saya pikir harus ada yang menemani si mama di hari tuanya.
Kay, the least expected malah duluan akan pergi. Oh ya, saya harus ceritakan siapa bapak mereka. Adalah seekor kucing penghuni properti saya (karena suka berkeliaran di halaman rumah saya dan ngadem di bawah mobil) yang saya sebut Kuro (singkatan dari Kucing Jorok) karena kebiasaannya menandai kekuasaan dengan pup di depan pintu rumah saya! Kuro bukanlah kucing kampung, dari postur badannya saya tahu dia adalah kucing ras, karena tidak pesek dan tidak menunjukkan pola wajah dan bulu khas Persia saya tahu dia bukan persia, mungkin mix breed, mungkin angora. Yang jelas dia bukan kucing biasa. Dia itulah, yang mengawini Toby. Kuro si kucing menyebalkan dengan muka ngajak ribut adalah bapak dari Kay, Keane dan Lilly. Dan the moment saya melihat pola warna bulu mereka, dan wajah Kay, saya tahu Kuro lah si bapak. Kay adalah cetakan termirip, dan sebagaimana pecinta kucing ras Persia saya paling tidak menganakemaskan Kay, habis mukanya paling mirip Kuro yang mancung!
Tapi ternyata Kay lah yang besok akan saya drop di rumah teman saya yang setuju menukar Kay dengan uang. Dan malam ini saya memboyong keempatnya tidur di kamar saya, ternyata saya sedih juga Kay akan pergi, entah kenapa saya merasa Kay juga tahu dia akan dibawa pergi. Saya merasa dia memandangi saya dengan tatapan “I knew it”, dan hari ini dia menjilati Keane dan Lilly dengan saying. Hati saya terenyuh, besok saya akan memisahkan seorang anak dari ibunya, seorang kakak dari kembarannya. (menelan ludah). Dia bahkan belum pernah naik mobil dan dibawa ke dunia luar..
Saya yang melodramatic dan cengeng ini, tidak terhindarkan juga menangis saat tadi pulang dan menemui Kay di kandangnya. Segala alasan rasional saya memutuskan untuk mengurangi jumlah kucing yang ada di rumah saya tiba-tiba rontok saat saya mengulurkan tangan ke dalam kandang dan dia menjilatinya (di dunia kucing, kalau mereka menjilati manusia, bisa tanda sayang atau tanda ada maunya atau bau tangan manusia sedang menggugah selera), Kay jarang menjilat saya, dan besok Kay pergi. Duh saya seperti mama yang akan melepas anaknya untuk diadopsi. Sebagai breeder, sebenarnya tidak boleh saya terlalu terikat emosional dengan anak-anak kucing yang dibiakkan, masalahnya adalah kelahiran mereka tidak saya ‘jadwalkan’ untuk dibiakkan dan mereka saya hitung sebagai peliharaan.
Kira-kira, apakah nanti Kay akan rindu rumah saya? Apakah Kay akan ingat Toby dan dua kembarannya? (menelan ludah). Saya jadi teringat tulisan mbak Dee Lestari di salah satu buku Supernova karyanya, manusialah yang memberi binatang perasaan. Kitalah yang merefleksikan perasaan kita pada mereka. Tidak tahu apakah mereka bisa mengingat, tidak yakin juga apakah mereka bisa sakit hati karena harapan yang tidak tercapai. Lalu saya ingat perkataan Cesar Milan di salah satu episode acara Dog Whisperer-nya, binatang hidup di masa kini. Dia tidak akan menyalahkan kita dan marah pada kita, manusia. Dia hanya bereaksi terhadap present action. Saya harap mereka benar, kalau pun mereka salah, dan Kay menyadari bahwa mungkin dia tidak akan bertemu keluarganya lagi, saya harap Kay mengerti alasan saya dan memulai hidup baru dengan baik (menelan ludah).
Jadi, babling saya yang panjang tentang kehidupan saya dengan kucing-kucing saya akhiri di sini saja. Saya sungguh senang diberi 3 ekor anak kucing dan senang juga menemukan calon owner yang baik untuk Kay. Saya selalu menerapkan prinsip bahwa saat berpisah dan terasa amat sangat bersedih, itu adalah harga yang dibayar untuk kebahagiaan yang sudah pernah dijalani bersama, sehingga saya bisa melalui perpisahan dengan ikhlas. Bagi orang yang juga punya hewan peliharaan tentu lebih bisa memahami mengapa sedalam ini saya merasa berat berpisah, hewan peliharaan adalah komitmen, anggota keluarga, pemberi warna. Kebahagiaan yang diberikan tidak sebatas tingkah lucu atau bulu lembut, tapi juga berasal dari loyalitasnya, kesehatannya dan bahkan sekedar kehadirannya di ruangan yang sama…  
Ah. Well this is a farewell note to Kay.. selamat menempuh hidup baru dengan nama baru, Kaye Meowingtton a.k.a Kay. I really don’t know what to say…
(Meowingtton adalah nama resmi cattery saya dan adik saya saat Berjaya dulu, sehingga semua anak kucing di sertifikatnya diberi nama belakang demikian)


naa




Tuesday, October 21, 2014

Pesta Rakyat

Siang terik tadi saya pergi ke Monas, berhubung hari ini pelantikan bapak presiden yang ketujuh. Sepulang kuliah yang seringkali usai terlalu pagi, untuk orang yang berjuang melek dari subuh demi tiba di kampus dengan cantik pukul tujuh, kelas yang berakhir pukul sepuluh pagi membuat semangat yang dijerang sejak subuh terasa mubazir. Jadilah saya dan dua rekan saya beriringan dengan mobil dan dua motor menuju Monas. Euforia karena the new hope seperti yang diusung majalah Times? Bukan. Kepingin makan gratis? Bukan. Ingin jalan-jalan, iya.
Judulnya pesta rakyat, sedari kecil terbiasa jadi rakyat jelata saya menerjemahkan pesta rakyat dengan arak-arakan, gerombolan manusia aneka usia, musik dangdut, aneka tukang dagang, disebar di suatu lapangan yang dialihfungsikan, seperti stadion atau lapangan pacuan kuda. Itulah yang saya lihat hari ini, dengan mengenakan setelan ala kantor (padahal saya bukan orang kantoran), saya berjalan kaki dari stasiun Gambir dimana saya menyimpan mobil, ke arah pintu Monas. Jam dua belas siang kerumunan belum ramai seperti yang saya lihat tadi di TV saat puncak acara sekitar jam delapan malam, saya berpapasan dengan macam-macam orang, macam-macam arakan, pastinya dengan pelbagai tendensi. Segerombol keluarga baru turun dari bis transjakarta, membawa paying, menenteng tas, menggenggam tangan anak-anaknya, khas dengan keringat mengalir di pelipis. Lalu saya berpapasan juga dengan remaja-remaja tanggung (tanggung panjang celananya), saya tidak tahu apakah mereka tidak sekolah atau saya salah terka usia, yang jelas mereka juga berjalan ke arah yang sama dengan saya, bedanya hanya di rok dan celana, dan usia, dan kacamata hitam (banyak juga sih).
Tapi yang saya perhatikan adalah kegembiraan di wajah-wajah mereka, entah karena bapak presiden pilihan rakyat yang berasal dari rakyat berhasil naik ke kursi pimpinan segala rakyat, atau karena janji makan gratis dan band Slank mau manggung, atau karena bisa mengedukasi anak-anaknya tentang tempat-tempat bersejarah Jakarta, pokoknya mereka gembira. Saya pun jadi ketularan gembira, padahal dalam keadaan takaran mood saya biasanya, panas hari bolong dikombinasi jalan kaki tanpa penutup kepala sudah harga mati bikin bibir mencibir. Hari ini saya senang sekali melihat macam-macam orang dan mencoba menerka alasannya bergerak dari rumah untuk datang ke Monas, menerka bagaimana bentuk rumahnya, menerka apa jenis musik kesukaannya. Terkesima juga sesekali dengan kaus yang dikenakan banyak orang saat itu, kaos bergambar bapak presiden dengan tagline untuk Indonesia baru. Terasa betul meski secuil ada harapan yang mencuat dari napas tertahan, momen ini adalah bagian dari sejarah, hari ini orang-orang ini, dan saya juga, dengan konkret merayakan penulisan sejarah bangsa. Meski secara tidak langsung karena saya awalnya hanya mau jalan-jalan ke area non-mall, non-cafe, non-parkir tarif per jam, tapi penggerak niatan tersebut adalah keberadaan pesta rakyat ini. Terminologi tepat untuk menggambarkan hari ini, rakyat berkumpul ramai-ramai, ada makanan dan musik, ada sukacita, ada alasan untuk dirayakan, bukankah itu items pesta?
Meskipun saya dan kedua teman saya hanya berkeliling radius dua ratus meter dari gerbang Monas dan akhirnya menertawakan orasi dari kelompok entah apa sambil makan sate padang dan menandas es campur duren tanpa duren, senang juga rasanya menonton orang. Kata teman saya keadaan begini juga terjadi kalau hari Minggu di Senayan, orang kumpul-kumpul mau olahraga, ada jajanan, ada musik. Tapi hari ini tentu berbeda, kata saya, tidak ada alasan magis homogen yang membuat orang segala penjuru sepakat datang. Bapak presiden rakyat hari ini resmi dilantik, itu alasan homogennya, yang magis adalah kerumunan ini meski saya tidak tahu berapa prosentasenya, ada yang hadir karena bersuka cita akan resminya bapak presiden dilantik. Buktinya ada yang orasi, buktinya ada yang pakai kaos itu. Saya menerjemahkan fenomena ini sebagai besarnya citra bapak presiden baru di mata rakyat, rakyat mana saja, meskipun yang paling ekspresif dan lebih berniat berpesta kebanyakan adalah rakyat jelata yang naik angkot, hehehehe..
Tak beberapa lama pawai dan orator perempuannya yang meneriakkan tentang harus lebih galak dari matahari, saya dan kedua teman saya memutuskan pergi lebih awal sebelum pesta rakyatnya betul-betul dimulai, apalagi abang tukang sate padang kami disuruh pergi oleh bapak satpol PP dengan alasan asapnya bikin mata orang-orang pedas, lah wong saya duduk face to face sama asap satenya baik-baik saja kok… anyway, hahaha, seperti rakyat lainnya yang tidak ikut pesta saya kuatir juga akhirnya dengan kondisi jalanan, takut macet, begitu. Saya pun berpamitan dan kembali jalan kaki menuju stasiun Gambir dengan kemeja berpunggung basah, saya melawan arus orang-orang yang semakin ramai berjalan ke arah Monas, ibu muda dengan senyum dan menenteng orok, atau pun ibu pedagang asongan tanpa gentar mendorong gerobak memburu kerumunan, semua hari ini bergerak ke titik yang sama untuk tujuan macam-macam, tapi digerakkan satu alasan bawah sadar: merayakan era baru, presiden baru dan harapan baru.
Hari saya pun diakhiri dengan pillow talk bersama pacar, not literally pillow talk as seen on movie, dia di atas kasur, saya di ubin. Di antara peluh dan sumuk dan rambut pendek saya bergumpal di leher, serta sisa-sisa bau asap rokok bercampur bau kentut dan bau minyak dari gorengan ayam sisa makan malam, pembicaraan ringan kami terasa menyenangkan, saya teringat benar juga kata orang, akan selalu ada hal yang tidak kita ketahui tentang pasangan, hal ini salah satunya. Saya tidak tahu kalau pembicaraan ringan dengan si pacar bisa membuat hati saya ikut-ikutan ringan, tanpa topik spesifik dan dua cangkir signature coffee pembicaraan ngalor-ngidul kali ini malah lebih terasa mind blowing daripada pembicaraan brainstorming yang di masa dulu saya lakukan.
Barangkali, pacar saya memang bukan lawan bicara tukang berkhayal dan banyak tanya yang lebih sering menghasilkan kernyit dahi daripada senyum malu-malu. Untuk seseorang seperti saya yang seolah-olah hidup di dimensi tukang kaji dan tidak puas, pacar saya adalah orang normal. Yang akan marah kalau saya bertindak aneh untuk alasan tidak lazim, yang tidak berdecak kagum pada pemaparan pemikiran obsesif dan sarat hal-hal destruktif. Well what are the odds? Coffee shop talking tidak lagi jadi sekte saya, brainstorming dan mempertanyakan makna hidup mulai menipis frekuensinya. Pacar saya hidup di garis bilangan masa kini, dan mau menarik saya keluar dari masa lampau. Pembicaraan ringan ini adalah manifestasinya. Normalitasnya menyadarkan saya, bahan obrolannya membuat saya tersenyum tanpa usaha. Jatuh cinta lebih mudah tanpa diupayakan.

Well. To sum up:
Hari ini rakyat berpesta
Saya dan pacar berbicara, saya bersuka cita
Selamat malam Jakarta!


naa

Friday, July 18, 2014

who past whom

"i don't remember their last haircuts
Probably couldn't recognize well their laughter if we met
knowing that neither they nor I ever need to fix and replace what's gone
I suddenly believe that we ride in different time, and don't find out yet, who past whom."

naa          





                                         

Wednesday, July 9, 2014

sadly, this is useless

Seringkali setiap menyetir seorang diri, di track panjang sepanjang cipularang, maupun track pendek-pendek pagi buta pulang ke rumah saya menemukan banyak pemikran dan emosi, yang sering kali lebih banyak tertumpah saat saya duduk di kursi driver, saya tidak tahu apakah orang-orang lalin juga melakukan hal yang sama, misalnya sesenggukan menangis selama menyetir di tol sampai bibir terasa bengkak pasca disengat lebah, belum pernah sih, hanya mengira-ngira saja rasanya.
Lantas ada dua hal yang saya pikirkan tadi selama menyalip-nyalip truk-truk sebesar megatron di tol Cikampek, pertama, kenapa kita membenci, dan tidak bisakah kita berhenti membenci. Perasaan itu bukanlah sesuatu yang asing selama kita hidup menjadi manusia. Kita benci benda, kita benci pengalaman-pengalaman pahit, beberapa dari kita malah membenci diri sendiri. Semua dengan alasan yang kita percaya membenarkan kebencian. Pada intinya, selalu ada pembenaran yang tampak logis, atau yang logis dan tampak benar, mana pembenaran yang tepat, hanya dinilai secara individual. Saya bisa tidak sepaham dengan orang yang membenci seseorang dari etnis tertentu karena menggenalisir negara asal etnis tersebut yang disebut-sebut di berita merugikan negara kita, tapi ketidaksepahaman saya tidak dapat menjadikannya berhenti membenci kelompok etnis tersebut.
Saya punya daftar hal-hal yang saya benci, tapi syukurlah saya tidak punya daftar resmi orang-orang yang saya benci. Saya suma punya daftar orang yang tidak saya suka atau tidak lagi saya sukai. Karena sepertinya membenci orang merupakan tindakan yang berrisko, banyak energi saya yang akan habis bila membenci seseorang, contohnya sewaktu saya belajar membenci teman sekelah saya sewaktu saya masih SD. Karena dia sangat pintar dan saya berkali-kali duduk di peringkat dua di bawahnya. Saya merasa menghabiskan banyak energi untuk tidak mau bertanya apapun tentang pelajaran padanya, atau meminjam barangnya, atau sekedar mengundangnya ke acara perayaan ulang tahun saya, aksi-aksi yang tidak perlu, yang membuat saya bergidik memikirkannya.
Lalu seorang guru sewaktu saya sekolah SMP menyebutkan satu kalimat yang terngiang dan berandil sedikit dalam mengubah pandangan saya tentang kebencian : kita tidak diciptakan untuk membenci, itu hanya perasaan tidak suka yang terus kita pertahankan. Saya pikir-pikir kalimat itu ada benarnya, kita akan selalu bertemu orang yang melakukan hal-hal menyebalkan yang bisa saja membuat kita tidak menyukai orang tersebut, tapi alasan itu saya rasa hanya cukup untuk melandasi ketidaksukaan yang sesaat, kalau sampai kita menciptakan alasan-alasan lain maka saat itu kita memutuskan untuk membencinya, dan menurut saya tanpa kita sadari kita melakukan segala hal untuk melanjutkan alasan itu, dan menciptakan kebencian, dan mungkin kita tidak mengakui bahwa hal-hal itu membuat kita kelelahan.
Dengan menulis ini saya tidak menyatakan bahwa saya adalah orang yang lurus-lurus saja dan tidak pernah membenci orang lain. Beberapa kali pun semasa kuliah saya sebagai seorang sahabat wanita yang baik ikut membenci mantan pacar teman saya, atau pacar barunya mantan teman saya, dalam tahun kemarin saya baru saja dinobatkan menjadi public enemy di genk tertua saya (tertua usia pertemanannya) dan rasanya tidak usah diwawancara satu-satu apakah mereka membenci saya atau tidak. Melalui mereka saya belajar untuk tidak membenci dua hal, membenci mereka karena berhenti berteman dan membenci diri saya sendiri karena memutuskan pertemanan lantaran tak kuat hati dan tak kuat malu diasingkan. Karena saya lelah membenarkan alasan saya untuk membenci mereka yang menyakiti hati saya dan membenci diri saya sendiri atas tindakan ekstrem saya yang membuat mereka pergi, karena bagi saya kesalahan yang kita perbuat adalah one time thing, biar seberat apa pun, yang tidak kita sukai adalah tindakannya, bukan orangnya.
Rasanya sulit ya menemukan alasan paling tepat tidak menyukai seseorang selain karena sifat maupun perbuatannya, tapi kalau mengingat hakikat kelahiran manusia yang ditakdirkan bersih dari nol, dengan segala kebaikan yang ditabung orangtua selama membesarkan kita, membenci adalah sikap pilihan yang kita bentuk seiring waktu, bukan sikap yang diturunkan atau sesuatu yang dikodekan melalui DNA. 

naa




"tak sulit mengingatkan tentangmu
semua kenangan yang kita tulis sepanjang masa bersama
hingga satu titik kuputuskan untuk menambah warna lain dalam ceruk pelangimu
melunturkan mejikuhibiniu pertemanan yang kita terjemahkan semasa muda
aku lupa mengatakan maaf
kamu tidak bilang kapan akan berhenti berseberangan 
semua tiba-tiba berhenti 
sudah hampir setahun sampai kini
kapan kita berhenti dalam diam saling membantai
dan suatu hari bisa bicara dalam damai?"


Monday, July 7, 2014

jalan tol

berkendara bersama
di jalanan panjang membelah gunung-gunung hijau
sinar matahari sore menentramkan hawa dingin pasca hujan berangin

lagu ska lama diputar menyalak
suaraku bernyanyi sember berteriak
kita tertawa-tawa geli
mengawasi truk-truk bertulis aneka kalimat basi

tak ada yang terasa mengapa
tidak bahagia berlebihan
tidak sedih berkepanjangan
hanya sesederhana rasa damai melekat
tidak risau akan hal kecil seperti bekas jerawat

sungguh Yang Maha Baik
berkah alam-Mu selalu yang terbaik!


naa

Wednesday, May 14, 2014

the good night

because I cant sleep
and start crying hard
now my stomach hurts
like a giant black hole sucking them
and my heart's pounding
irregularly
my breath shortens
it seems too hard to take the air in
now i'm tired
my eyes are just too heavy
good night
I survive my demon tonight
i'm so sorry. i'm still the same person I made as a foe in the past.

naa

Tuesday, May 13, 2014

H


“Suara kepalaku bernama H. Ia adalah kenalan terlama yang kupunya, sejak kala pertama aku mengingat, H sudah disertakan di dalamnya. Aku tidak pernah tahu wujud H, juga tidak pernah tahu bagaimana bentuk suara H bila ia punya pita suara. Bunyi yang dikeluarkannya bukan bersumber dari sana, tapi mungkin dari resonansi suatu bagian otak yang kupunya.
H berbunyi sepanjang hari, tapi H tidak pernah mengajakku bicara. H ikut berbicara sesuai pikiranku, ia tidak pernah menjadi subjek lain yang menjadikanku subjek orang ketiga, sehingga kami tidak pernah bekenalan secara resmi, ia tidak menyebutkan namanya, sebenarnya akulah yang menamainya H. Entah mengapa aku menamainya demikian, H adalah kenalan terlama yang kupunya, kebanyakan kita tidak dapat begitu mengingat satu dari banyak alasan yang pernah dibuat selama kita mengenal orang berpuluh-puluh tahun. Bulan ini aku merayakan ulang tahunku kedua puluh enam, maka kurasa kurang lebih segitulah usia perkenalanku dengan H.
Meskipun kami tidak pernah saling berbicara, H-lah yang berperan paling banyak berperan dalam pengambilan keputusanku, H, entah bagaimana caranya dapat berbentuk seperti lubang hitam yang menghisap apa pun termasuk semua perkataan semua orang dan mencernanya seperti yang kamu lakukan di dalam perutmu saat menelan sepiring nasi. Lalu, entah bagaimana caranya H akan menanamkan keputusan itu padaku.
Hidup selalu lebih mudah bila H yang memutuskan, aku tidak pernah punya keberanian sebesar yang dimiliki H, atau sebesar yang selalu aku tulis di dalam tulisan-tulisanku yang lain. Bila H yang memutuskan, semua orang akan gembira dan mengakui kebenaran keputusan. Seperti memutuskan untuk memilih baju dari rak baju di toko, tentu akan lebih aman kalau memilih dari rak best seller.
H selalu lebih besar dari hati, mungkin H berukuran sebesar pikiran, yang secara abstrak kuanggap berukuran tigaperempat dari total keseluruhan diri.  Sampai suatu hari aku memutuskan untuk membunuh H, karena H sudah berbohong selama 12 tahun. Mula-mula H berbohong kecil-kecil, lalu lama-lama H membohongi pikiranku sampai pikiranku terpusat jadi satu dan menolak sistem yang benar. Dan semua orang yang mengira H adalah aku, terbengong-bengong, dan beranjak pergi.”

Untuk kalian yang tak sempat mendengar. Biar saya bicara lewat telepati dan kabel-kabel imajiner yang tersambung ke kepala kalian, sehingga tidak ada rejeksi, karena kalian tidak tahu saya menyampaikan pesan lewat kabel-kabel itu, sebut saja ini arus satu sirkuit.
Setelah kalian bilang soal peduli dan menceramahi saya tentang kekecewaan,  saya tidak jadi bunuh diri. Bukan, saya tidak lagi berpikir mau bunuh diri. Saya sudah jera membunuh diri.  Setelah kalian pergi dan berpuasa bicara, sekarang saya bisa mendengar suara kepala saya sendiri. Setelah selesai menangisi ketidakbahagiaan, hari ini saya bersepakat dengan diri untuk berbahagia. Kalian tidak paham, tentu tidak ingin paham. Karena kita berteman lama, saya tidak ingin tidak bicara lebih lama.
Sesungguhnya, yang sekali ini, adalah upaya saya yang paling berani untuk mendengarkan kata hati, saking terlalu lama tidak pernah berani sampai detik ini pun saya masih canggung mendengarkan hati.  Hidup saya telah lama berpusat pada apa yang saya pikir paling sesuai, hidup saya selama ini saya ini cukup berlogika.

Kini, sudah lepas bulan pertama, kedua dan ketiga sampai saya lupa bagaimana menangisi kalian pergi. Saya tidak lagi sakit hati. Ini adalah momen yang saya janjikan, mengerti atau tidak mengerti, marilah berdamai, saya tidak lagi berada di bab yang sama dengan bingkai kalian. Mari bergegas, kita sudah tuntas. 


naa

Saturday, March 23, 2013

berangkat senja

selamat jalan matahari kecil
kutunggu labuhanmu di hari esok lagi
menggeliat air tersibak dayungmu
berapa lama pun hari memanjang aku akan mengejarmu rindu
tak akan pergi kecupku di keningmu yang ikut mengangkat sauh
sealir air yang pelan mulai berdiam kulanjutkan langkah menyusuri dermaga hidup
senja merengkuh perahumu hangat
sehangat senyummu memanggil di pematang magrib


naa

i'll be missing you too much, granny

Monday, January 14, 2013

gulaku

"dalam pekat kopimu tak bergula
ada waktu yang terasa tak berbatas
bersyair di depan matamu
mengawasi kedip dan membatin kagum
dalam diameter kelopak mataku membuka
kata-katamu tanpa pemanis
 seperti kopi yang tidak pantas dilabel manis"


teman terbaik menenggak segelas kopi adalah obrolan panjang tanpa obralan atau senyuman idiot saling menatap dan latte-ku nyaris tidak butuh ekstra gula, tatapanmu sudah menawar pahit.



naa

Sunday, January 13, 2013

cabut ubi


Ada ratusan cerita cinta yang pernah saya dengar, beberapa dialami sendiri, beberapa diceritakan lewat film, buku, mulut-mulut orang bahkan lewat mimpi. Ratusan ending  dan ratusan klise. Saya selalu menyukai sad-ending, di setiap cerita cinta fiktif macam apa pun, sad-ending tidak pernah menumbuhkan senyum selebar badut atau membiarkan kita berkhayal lebih indah. sad-ending memukuli kita supaya realistis dan membawa pulang puluhan pikiran setelah meninggalkan bioskop.
Salah satu pikiran yang rutin saya bawa pulang atau menggantung di kepala sesudah membaca cerita cinta dengan sad-ending, sering kali adalah; bagaimana mereka bergerak kembali ke kehidupan masing-masing setelah berkali-kali berusaha mencampurkan kehidupan mereka? Sebenarnya bagaimana cara menjalankan kalimat ‘Tidak dapat hidup tanpa kamu”?

Dalam salah satu cerita cinta kecil yang saya tahu, ada dua orang yang bertemu dan menghabiskan waktu berbicara sejak bangun pagi sampa kembali tidur menjelang pagi. Tanpa sengaja menemukan kenyamanan, jembatan lain untuk hati supaya jatuh bagi satu sama lain. Laki-laki itu menyukai perempuan itu dengan berbagai alasan, dan perempuan itu menyukai laki-laki itu karena segala alasan yang ia percaya membuatnya merasa sedit lebih baik dalam hidupnya yang mulai didereti kebosanan nyaris mendatar. Entah siapa yang lebih menyayangi siapa, namun di dalam cerita cinta kecil yang saya tahu, harus diputuskan selesai setelah lewat berbulan-bulan penuh tanya.

Setelah melalui drama menyayat hati yang saya nikmati, dialog-dialog manis dan permohonan untuk tidak pergi dari laki-laki itu yang membuat bibir terkatup rapat, perempuan itu lumpuh sebentar menghadapi handphone yang berhenti berkedip merah dan mulai sadar hatinya terasa seperti ubi yang baru dari tercabut dari tanah, terasa bolong dan kosong sedikit.  

Perempuan itu tidak pernah sampai di persimpangan klise untuk memilih, serupa dalam cerita cinta segitiga, sedangkan laki-laki itu pun berhenti dan dengan berat terikut janji saling melupakan. Tidak pernah ada pertanyaan klise ‘bagaimana saya bisa hidup tanpa kamu?’  karena cinta sebesar apa pun tidak akan pernah menyatukan nafas dua orang, tidak ada ketergantungan yang mematikan seperti yang terjadi pada kembar siam.

Dalam cerita cinta kecil yang saya tahu, tidak pernah ada mimpi yang dibagi dan hasrat yang dipinjamkan, mereka seolah berkawan kenyamanan dan saling menyukai kemudian memutuskan berhenti sebelum segala sesuatu menjadi saling menyakiti dan untuk alasan yang mereka buat masing-masing. Yang saya dengar terakhir, perempuan itu menulis kata-kata dan puisi-puisi pintu darurat lebih baik lagi setelah menikmati perasaan tercabut ubinya.  Tidak ada air mata, hanya sad-ending yang tidak pernah disayangkannya. Mengikhlaskan membuatnya berdamai dengan kenangan yang sesekali membekukan pikiran setiap teringat detail tentang cerita cinta kecil itu.

Saya tidak pernah lagi mendengar tentang laki-laki itu, tapi saya pun berharap dia menikmati sad-ending ini seperti saya dan perempuan itu, mungkin lebih sukar karena laki-laki itu yang diminta pergi, tapi suatu hari kenangan yang pernah terjadi tentu akan membuatnya tertawa kecil karena biar bagaimana pun, waktu mengurangi kadar kesakitan.

Pikiran yang saya bawa pulang setelah mendengar cerita cinta kecil yang saya tahu itu; bukanlah pikiran perandaian bagaimana bila mereka memutuskan bersama dan melangkahi batas kewajaran yang mereka buat, tapi bagaimana cara mereka kembali pada kenyataan? Bagaimana cara mereka menyimpan kenangan yang sudah dibuat? Dan bagaimana mereka menepati janji yang dibuat diam-diam untuk saling menyapa jika sudah waktunya bertemu? Di suatu tahun, di suatu tempat, setelah semua perasaan kembali ke titik nol, seperti apa peempuan itu akan tersenyum dan menyapa?

Berkali-kali pikiran-pikiran itu berterbangan di dalam kepala saya dan pada akhirnya saya menanyakan jawabannya pada perempuan itu, yang sudah mencoretkan puluhan puisi di bukunya tentang cerita cinta kecil yang saya tahu. Terjawab sudah, perempuan itu menyusutkan kenangannya menjadi benda kecil berupa cendera mata bagi pikirannya, dan menghapus semua jejak laki-laki itu dari memory  semua hardware dan menyisakan sedikit di messenger yang tak pernah dibukanya serta tiga buah lagu dari dua band dan satu DJ, dia bilang akan tersenyum kecil saja bila bertemu laki-laki itu, dia tidak mau tersenyum lebar. Siapa tahu.... laki-laki itu tidak mengenal atau urung menyapanya ia bisa segera menyembunyikan senyum dan pura-pura tidak melihat juga kalau senyumnya tidak lebar.

Happy-ending di dalam cerita fiktif akan membuat senyum super dan hati terasa berbunga, tapi berlalu tanpa membuat saya berpikir. Berkat ratusan cerita cinta yang saya nikmati dan beberapa bentuk sad-ending yang saya ketahui, membuat imajinasi dan kearifan saya tergelitik dan, somehow, membuat saya merasa hidup saya seperti adegan film.  Atau mungkin...saya harus sedikit mengurangi buku dan film cinta yang terlalu sentimentil!

Sambil menulis tulisan ini saya mendengarkan lagu lama dari album kedua Savage Garden The Lover after Me yang terasa pas menjadi soundtrack tulisan ini. Mereka bilang : ever since you’ve been gone, the lights go out the same, the only different is you call another name to your love, the lover after me.. mungkin, seberagam apa pun kisahnya dan ending-nya, segala sesuatu tetap akan berlangsung sama saja dengan alur berbeda dan sedikit twist, karena yang terpenting bukan kisahnya atau ending –nya, tapi nama siapa yang kita sebut entah dengan penuh cinta atau penuh sakit hati.
Mungkin loh ya...


naa

Thursday, October 4, 2012

cyanocobalamin



yang paling bontot ditulis di kertas resep saya
kadang-kadang jadi satu-satu pilihan setiap kali seseorang datang pada saya dan bilang pegal-pegal
belakangan jadi solusi nakal dan brilian :
intramuskular

seandainya ada keputusan sepintas itu
untuk menuang habis ideologi saya ke dalam pikiran seseorang tanpa perlu dicerna
tinggal bilang "sepakat!"


naa

Monday, October 1, 2012

make-up pouch

tanpa tersadar
kamu menjadi komplotan terpenting saya
di setiap perjalanan tak bermalam di rumah,
menampung cairan-cairan ajaib
atau kabel-kabel berbelit
ternoda di sana-sini
beraroma aneka rupa

tanpa tersadar
kamu hampir sepenting kepala saya
dan hari ini kamu menemukan akhir
berbesar hati berhenti menemani
karena sudah tak lengkap lagi
kamu akan diganti seperti benda-benda
dan orang-orang lain yang saya ganti

tapi terima kasih untuk siapa ppun yang menemukan
dan menjajakanmu,
seperti lagu rutin selamat tinggal yang biasa kutembang :
kita sudah tidak sejalan, sudah berbeda kenyamanan,
mengapa saling menyusahkan?


naa


(melepaskan benda-benda yang biasa menempel setiap hari entah kenapa terasa seperti melepas orang yang saya sapa pertama kali di pagi hari)

Friday, August 31, 2012

Antares

bintangmu tumpah
di atas karpet gelap
dan di antara seribu anonim
warna kuningmu menjadi bernama

engkau aman
disisipkan di balik pikiran
berlindung dalam diam-diaman perkataan
dan menyerah berakhir di kedipan fajar


naa


(semalam suntuk bertengkar, sepanjang siang berkelar)


stepping stones

Suatu hari ada kabar yang mewarnai kebosanan saya di desa tempat saya tinggal, seseorang dari cerita dulu (tidak terlalu lampau) punya pacar baru, diumumkan lewat display picture bbm yang berganti jadi foto berdua dengan seseorang baru (judulnya pacar baru, saya pun baru tau orangnya), berhubung saya tidak mengaktifkan feature recent updates dalam rangka menapis dosa lantaran mengomentari personal message di daftar contacts saya, saya diberitau kabar tersebut oleh teman baik saya.
Saya belum menanyakan kabar tersebut langsung pada orangnya, tapi dari segelintiran bicara-bicara kabar tersebut terkonfirmasi. Dan seorang teman menanyakan dengan nada usil, “bagaimana perasaannya, Na?” whoaa... mungkin bermaksud menggoda, tapi saya menjawab dengan serius, perasaan saya baik-baik saja, happily surprised! Meskipun kesungguhan saya terus diragukan, tapi saya menjawab dengan jawaban yang sama setiap kali ditanyakan hal serupa.

Lagipula apa alasannya saya tidak gembira?

Tanpa bermaksud membahas hubungan yang sudah lewat, saya pikir memang ini berita yang tergolong melegakan, mengingat banyaknya jumlah air mata dan emosi yang tertera di dalam sejarah hubungan tersebut. Dan secara personal, adalah beban batin bagi saya bila saya berpikir bahwa saya menjadi alasan seseorang bersedih, entah bagaimana pun faktanya. Biar bagaimana pun buruknya pernyataan yang dikeluarkan orang-orang di sekitar saya mengenai sejarah ini, saya selalu memercayai bahwa semua orang adalah orang baik. Hanya sesekali saja lepas kendali. Hanya sesekali kita butuh pernyataan berhenti, dan inilah alasan mengapa sejarah semacam tersebut diakhiri.
Lalu ada teman lain yang tertawa-tawa dan mengatai saya jealous melihat reaksi pertama saya yang penasaran setengah mati. Hem, mari kita telaah reaksi semacam ini. Hal ini jelas awam terjadi pada hampir semua perempuan manapun. Ada yang dengan alasan narsistik bermaksud mengkomparasi, lalu mencari-cari kekurangan, ada yang bermaksud mengata-ngatai perempuan baru yang berhasil merebut sang pacar lama, bahkan mencari  kemiripannya dengan pacar baru sang mantan untuk memastikan bagi diri sendiri bahwa sang mantan sengaja cari pacar setipe karena belum move on, well, kali ini saya tidak begitu! Hahaha. (ingat kalimat saya sebelumnya, hal ini jelas terjadi pada hampir semua perempuan manapun)   

Lagipula apa alasannya saya jealous?

Lagi, tanpa bermaksud membahas hubungan yang sudah lewat, saya pikir kecemburuan tidak tepat digunakan di sini. Ketika kita berhasil menempatkan seseorang yang tadinya sangat kita sayangi bergeser menjadi orang yang kita hormati, rasa kepemilikan sepenuhnya bergeser dari skala seratus menjadi nol. Jadi tidak lagi ada porsinya perasaan semacam itu. Yah meskipun terdengar tidak bisa dipercaya, tapi bagi saya ini masuk akal, dan rasanya menggelikan saat orang-orang tidak percaya, yah, bukan barang baru terjadi benturan cara berpikir saya dengan kaidah-kaidah yang berlaku umum.
Tulisan ini terilhami dari banyaknya pertanyaan aneka bentuk tentang perasaan saya, mengapa malah saya yang jadi sorotan? Saya pikir mungkin meskipun kabar gembira ini bukan datang dari saya, tapi kabar gembira ini ikut berefek pada saya, saya jadi gembira, makanya orang-orang menanyakan perasaan saya, memastikan saya gembira juga atau tidak.
Saya gembira, sungguh. Kalau ada yang bilang kabar ini baru terdengar selang cukup lama sehingga tidak cukup lagi menyakiti saya, itu salah besar, kalau pun terdengar selang seminggu, saya akan tetap gembira. Dan pertanyaan terakhir yang membuat saya tersenyum, “kok gembira, Na?” , karena sekali lagi teori saya terbukti : ‘Kita selalu takut melepas pegangan karena takut terjatuh, lalu pada akhirnya kita dipaksa melompat dan akan terkaget-kaget mengetahui kita punya dua kaki untuk mendarat.’ Saya gembira saya tercantum dalam sejarah hidupnya, pernah menjadi bagian dari pelajaran pahitnya dan menjadi loncatan untuk keberanian menulis sejarah lebih baru, itulah kenapa saya merasa gembira!

naa


 p.s 

meskipun waktu tidak pernah jadi sahabat sejati yang tidak menyebalkan,
tapi waktu selalu jadi penyembuh terbaik untuk perasaan sakit yang dikira menetap,
:) :) selamat jatuh cinta lagi! Saya bangga sama kamu!


“broken heart won’t kill you, you’ll still be alive after all this through and you’ll find someone else to love, you’re just gonna be fine!” (seorang teman yang bilang, dari teman lain yang mengata-ngatainya demikian saat dia menangis pasca putus pacar).

Wednesday, August 22, 2012

mind trick

di dalam genggaman yang tersorot
oleh air mata yang basah jatuh
kusapu marahmu
supaya senyuman menjadi ingatan terakhir tentangmu kupunya
rindu diam-diam
berdoa pelan-pelan
dan pikiran-pikiran kecilku,
tolonglah, lewat saja
-naa

warna bajuku,
wangi parfumku,
kacamata baruku,
berbeda dari keasinganmu,
berhentilah bertengger di pikiranku
-naa

kita tidak pernah berfoto berdua
meskipun, pikiran terasa terikat
setidaknya, begitulah pikirku
-naa

merasa dibodohi oleh elektronika
oleh bebunyian
oleh kelip lampu merah
oleh jajaran huruf
lebih-lebih,
oleh pikiranku sendiri
*sigh*
*sigh*

sh*t!
-naa

Sunday, August 19, 2012

see you when i see you


Warna senyummu
Dalam warna senja
Di antara banyak suara,
Alasan kecil untuk tersenyum mendilusi pertengkaran virtual tempo hari
Kuhirup bau manis kretekmu, bau kopimu dan baumu 
aroma selalu jadi pemicu kuat untuk mengingat cinta yang seolah terbangun manis dari tidur,
bersama matahari tenggelam di belakangmu

denganmu,
waktu sudah tidak berlaku
 

(duduk di teras, saat senja)


naa

Thursday, August 9, 2012

tunnel vision


jarak tidak pernah lagi jadi hantu
perasaan ambigu sudah lama pensiun jadi benalu
rindu tidak pernah tidak menggebu 
-naa


bangkitan pikiran lewat endusan wewangian
rentetan senyuman terseret khayalan,
selamat malam, kawan!
-naa
 
bunga kecil
aku rindu percepatan waktu
salah, aku butuh percepatan waktu
karena aku takut
tidak, aku tidak boleh takut
aku mau kamu tau
bunga kecil
aku mau ending yang sempurna!
-naa

Kejujuran Kaki


Aku pikir hati adalah benda yang paling jujur di antara lidah, otak atau pun mata. Hati bukan hati yang dimaksud di pelajaran anatomi, tapi hati adalah gaungan perasaan yang disimbolkan dengan bentuk hati dan ditempatkan salah kaprah di sela iga, dimana jantung semestinya. Lalu seseorang bilang kaki adalah yang paling jujur. Kaki akan membawa kemana pun keinginan paling dasar yang diminta hati.

Kaki membawaku ke banyak pintu. Pintu dengan aneka ruas dan kejutan, pintu yang akan menghamburkan cahaya saat dicoba diterawang. Pintuku sudah banyak kuterobos, beberapa kali isinya hanya ruang hitam sebesar bioskop, beberapa isinya labirin, malah ada yang transparan; sewaktu dibuka malah menembus pintu lain.

Hari ini kakiku membawaku pada pintu punyamu. Pintu aneh dengan dua daun tapi gagal salah satunya, pintu yang berukuran pendek. Kupikir aku harus menunduk untuk melewatinya.
Lalu pernahkah membuka pintu dan merasa pernah di suatu momen kehidupan merasakan bahwa pernah membuka pintu yang persis sama? Itulah pikiran pertama yang menabrakku sewaktu akan membuka pintumu.

Buka? Tidak? Kalau dibuka, isinya apa? Mungkin hadiah, jadi ini pintu rezeki. Mungkin isiny kloset, jadi ini pintu toilet. Mungkin isinya mobil, jadi ini pintu garasi. Ah, mati berspekulasi, tanpa basa-basi kuterobos pintumu tanpa peduli bisa saja ada monster bersembunyi di balik situ.

Dor! Kok isinya cermin? Ini pintu ruang ganti perempuan. Kok hari ini kakiku membawa ke sana? Aku teringat pernah mematut-matut diri mencoba baju-baju baru dan berputar di depan kaca di ruangan semacam ini, dan menyadari badanku tidak sebagus itu, malah lebih melotot lagi kalau di ruang ganti dengan tiga cermin.

Jadi pintu ini pintu ruang ganti, dan aku harus masuk dan menontoni bayanganku sendiri? Kaki, apakah hari ini kamu akhirnya berbohong? Aku menoleh pada kaki, bergantian dengan bayangannya. Sama bantetnya, pikirku, tapi kakiku jujur. Sejujur tangan, perut dan lengan atas. Apa yang musti ditutupi? Apa yang musti ditakuti? Mereka tidak bertaring, mereka tidak mengata-ngatai balik orang-orang yang mengatai mereka gemuk, mereka hanya berfungsi tanpa cacat.

Lalu aku melengos menatap pipi, dan teringat kata-katamu tentang pipi. Pipi dinamai pipi karena ada dua, dan suku kata pi-pi pun kembar, pipi mungkin mengkembung seiring banyaknya makanan yang ditelan, tapi pipi tidak pernah mengkhianatiku saat tersenyum. Pipi tidak pernah tiba-tiba copot dan lari kabur kalau dikatai serupa bapao, pipi bahkan lebih setia menemani sampai mati dari pada pacar yang bersumpah setia. Jadi, pipi juga jujur, sejujur paha, kaki, lengan dan perut. Mereka berfungsi. Mereka bukan benda mati yang bisa dikatai jelek, lah wong berfungsi kok?

Oke. Sudah di ruang ganti dan sudah bercermin, sekarang apa? Berputar-putar? Tersenyum-senyum bodoh?  Seandainya mulut tidak berganda saat menjelek-jelekkan kaki, paha, perut dan lengan, tentu bayangan mereka tidak pernah membuatku mengerenyitkan alis.

Lalu, kenapa kaki membawa ke tempat ini? Kurasa karena kaki ingin aku bercermin, saat semua mulut dikunci di luar ruang ganti ini, dan kuamati ruangan yang cerminnya lebar-lebar ini, lalu mengerti mengapa pintunya kecil lalu setelah berhasil melewati pintu, ruangannya baru terasa lebar. Begitulah kita selalu memandangi diri kita, kecil sekali. Saat bercermin, banyak yang disadari sudah terluput, setengah jam bercermin sambil berpikir baru menyadari bahwa diri yang sempurna tidak pernah dinilai dari bentuk atau ukuran, tetapi dari fungsi dan pencitraanku sendiri. Makanya, hari ini ada cermin di dalam ruang ganti, supaya bisa jujur, sejujur kaki.

naa

Wednesday, August 8, 2012

anak hilang

"i am ashamed we're not so close
since i am always be your favorite daughter, but
you don't know me that much.
you don't know i love to talk dirty. you don't know i love banana split.
you don't know i love thailand horror movies. you don't know how bad
i want to be great doctor like you.
you don't know how i'd love to be your closest friend..

for years we hadn't had a lot talk, pop..
i cry myself out spelling your phone number
wishing i had that motive to call you as easy as i call that guy
who's just driving me home
knowing you're not asleep 'cause i've just entered and saw you reading your book
but i didn't say anything
i don't know what to say to you
even a 'good night'
or 'i'm home pop...'
nothing.
i want to talk to you.
without any feeling of guilt that i'm not your best girl anymore. since i've turned into
something out of your frame..
and i hate myself for feeling that.
i know you're never been like that.
it's just me.
in my head."






(from my old note, with some re-writing)


Hey Folks,

komunikasi selalu jadi masalah antara saya dan orang tua saya. Bukannya sama sekali tidak bisa bicara, tapi tidak bisa mengungkapkan isi pikiran atau apapun, dan ini berlangsung tahunan hingga saya sebesar ini. Saya selalu berpikir ingin menceritakan banyak hal, terutama pada papa saya, menggelikan bahwa saya yang terkenal bawel ini tidak tau mau bilang apa kalau sedang membicarakan hal yang serius.
Kadang-kadang messenger menyelamatkan saya, bahasa tulisan lebih terdengar masuk akal daripada lisan, isu terakhir yang saya bahas dengan beliau adalah isu terakhir tentang mantan pacar, yang entah dengan cara apa membuat saya percaya bahwa beliau dengan caranya sendiri tau cara saya berpikir, satu yang nyeleneh dari sekian banyak masalah besar yang berakhir dengan diamnya saya, tidak mengiyakan atau membantah apa pun isi pikiran beliau tentang saya yang lebih sering dikirimkan lewat sms. 
Saya pernah mencoba menelepon, menanyakan kabar, casual call yang terinspirasi dari teman saya yang rajin sekali menelepon papanya. Sesuai dugaan saya, malah terdengar aneh dan kaku, dan saya berhenti mencoba mengikuti reminder handphone saya yang mengingatkan untuk menelepon beliau setiap hari.

Hampir 10 tahun saya tidak tinggal serumah dengan beliau, dan kalau ada yang mau menghitung, bisa terhitung berapa kali saya menelepon beliau. Saya tau ini cara yang aneh untuk menjaga hubungan waras dengan orang tua, tapi saya lebih memilih bahasa tanpa intonasi atau keterlibatan eksistensi jasad untuk menyampaikan pikiran saya, atau sekedar mengkonsultasikan kasus pada beliau. Dengan kepercayaan tingkat tinggi saya meyakini hati kecil saya bahwa saya mewarisi cara berpikir beliau, mewarisi logikanya dan mewarisi ke-clumsy-an tingkat tingginya.


Cara hidup saya memang lucu, cara orang tua saya mendidik saya juga lucu, tapi saya tidak menganggap semua ini lucu. Saya sering berpikir bagaimana rasanya kalau saya masih tinggal dengan orang tua saya sampai usia sebesar ini, dan mungkin akan lebih banyak persoalan yang terasa tidak perlu.

Banyak yang mengingatkan saya tentang usia dan kesempatan dan tahun-tahun yang mungkin sudah banyak menghilang tanpa ada saya di dalam kehidupan sehari-hari beliau, banyak yang memberi pendapat bahwa perselisihan saya dan orang tua saya lebih banyak karena saya berkeras dengan alibi saya bahwa saya tidak bisa bicara dengan mereka. Saya mengerti, mungkin mereka benar.


Tapi saat ini mungkin saya tidak perlu bilang apa-apa... mungkin suatu hari kalau lidah saya sudah tidak terlalu kelu. Semoga dengan menjalani perjalanan hidup yang sesuai dengan track yang dimimpikan beliau, beliau tau bahwa saya mencintainya. Akan ada suatu saat saya meninggalkan keruwetan ini dan menggandeng tangannya dalam kesederhanaan hubungan anak-ayah. 

Saya sedang rindu rumah. Rindu kehidupan lama yang saya jalani dan tetek bengeknya. Saya juga rindu deretan pendek orang-orang yang saya sayangi.Dan dengan alasan menghibur diri, saya memercayai bahwa saya berada di tempat ini untuk suatu alasan yang dikenal dengan : masa depan.

well, quid pro quo. Same work, same pay. 

Que serra serra, that's my pop taught me and he's right. 

Love you pop.


glad to share, Folks!


naa


Friday, July 13, 2012

memoar kretek

selamat siang sebatang rokok,
bunyi pelan pematik dimulailah tembang singkat lewat basah bibir mencecap
dan asap meliuk genit
momen paling seksi dari hembusan campuran molek

sesapan kedua, sejenak setelah jenaka terhimpit
dari dua ritme kepulan asap
mengalirkan kata dari sunggingan senyum yang diiringi kernyitan alis
kalimat kecil nikmat yang disuguhkan melawan arus fonasi
dan jentikan jari menghempaskan abu
lentik mengiringi asap yang menari semakin liar

bicara tentang sebatang rokok
dan aroma manis cengkeh yang diramu dalam benda engkau sebut racun
seluruhn dunia boleh memusuhi
tidak akan membeli badai perasaan yang digagasi adrenalin,
pulsasi menderu,
dan gejolak kupu-kupu di dasar perut
dan hisapan demi hisapan mengisi penuh paragraf cerita diam
menjadi klimaks pribadi dari cerita pendek sebatang rokok

menjelang kalimat penutup
dan jari jemari yang beradu di atas asbak penuh abu
menutup tarian asap yang menyusup
menyisakan godaan kecil paling jalang,
bakaran kedua

dan selamat siang sebatang rokok
selalu ada waktu untuk sebatang berikutnya.


naa