Saturday, June 18, 2011
semoga masih hidup besok
Hari ini saya akhirnya, bertemu dengan hari Sabtu yang tidak memaksa saya pergi sekolah. ya, saya libur. Tadi saya pergi nonton film thriller-horror (let's call it like that) dan saya senang, akhirnya bertambah lagi daftar mini film hollywood yang mengaku horor dan bisa menakuti saya. Lalu saya pergi, seperti orang-orang lain, makan hot dog di swalayan yang sedang booming.
di tengah-tengah obrolan saya mendengar salah seorang pengunjung berteriak ".... ya udah sih repot banget, besok masih idup kan lo?" dengan gayanya yang..... ah sudahlah, saya habis berjanji sama Tuhan untuk tidak mencela orang selama seminggu, mari jangan bahas yang itu...
Lalu saya merinding mendengar hal itu. kata-kata itu pasti keluar dari mulut bocah yang baru keluar rumah jam 3 sore tadi, yang masih percaya diri menyambut hidup. Memangnya punya perjanjian apa dia sama Tuhan bisa sampai yakin betul dia masih hidup besok? bagaimana kalau tiba-tiba ada meteor seukuran biji dondong dengan kecepatan 650km/jam datang menyambar jantungnya setelah dia bilang begitu? (ini nyata, pernah ada kejadian seperti itu, saya lihat di acara tv fox crime, tentang 1000 cara kematian yang aneh dan lucu)
Saya jadi merinding, dan teringat kata-kata mama saya yang selalu berhasil memaksa saya bangun melek untuk solat subuh, "kematian itu mengerikan dan tiba-tiba". oke, saya memang takut mati dan lebih takut lagi setelah mati saya ditanyai "kenapa enggak solat subuh tadi?" bisa repot kalau saya jawab "saya ngantuk, saya mau tidur". Tuhan tidak seperti mama saya yang kadang-kadang mengalah dan membiarkan saya tidur sampai jam 9 pagi, Tuhan pasti lebih tegas.
Saya tidak suka bicara kematian, sungguh. biarpun seorang yang beragama tidak semestinya takut dengan kematian, karena itu adalah kepastian. Tapi begitu banyaknya cara orang mendeskripsikan kematian dengan absurdnya, membuat saya selalu bertanya-tanya seberapa dekat saya? bagaimana caranya? sakitkah? lamakah? bagaimana rasanya? ugh...
saya tidak ma bicara kematian, karena membicarakan kematian seringkali harus dikaitkan dengan dimensi agama yang saya akui saya sungguh tipis pengetahuannya mengenai hal itu. Kata-kata bocah penuh percaya diri itu membuat saya tersenyum hari ini, tidak pernah ada yang berani menjamin nyawanya sekali pun dia tajir melintir.
Mari kita hidup di antara ya dan tidak... mengambil keputusan demi keputusan tanpa menggantungkan jawaban karena ragu. kenapa musti ragu? apa yang musti ditakutkan? saya rasa hidup terlalu singkat untuk banyak mengkuatirkan hari esok. Hari ini belum tentu dapat kita habiskan dalam keadaan bernyawa, nafasilah hari ini, nafasilah menit ini, nikmatilah saat kita masih bernyawa ini dan buatlah sesuatu yang bermakna.
Saya mulai dari hal kecil, saya tidak ingin menunda-nunda pekerjaan saya, karena mungkin besok bisa saja saya kehabisan hari. Jadi saya akan segera menuntaskan prokrestinasi saya yaitu membersihkan telinga kucing saya tanpa menunggu-nunggu lagi!
Saya tidak ingin menggurui karena saya benci digurui karena saya ini tidak suka dikalahi, dan dalam tulisan ini saya pun tidak berniat menggurui. Saya senang mengutip kata-kata bocah percaya diri itu, sesenang saat saya meneriaki bocah lain yang menyalip mobil saya sembarangan "woy! udah mau mati lo?!"
Kita sering menggunakan anekdot yang berkaitan dengan kematian, dan itu adalah ironi, karena kita tidak akan terlampau sering mengalami kematian. karena kita mati satu kali. dan yang mati tidak pernah berhasil menceritakan bagaimana rasanya, maka lahirlah tulisan-tulisan seperti ini yang mencoba memerah tetesan intisari tentang kematian. Sekali lagi, saya tidak ingin menggurui, apalagi kalau bahasan macam ini.
tapi setidaknya, bagi saya, memikirkan kematian membuat saya menghargai banyak hal dan berharap besok pagi masih bangun untuk melihat matahari.
Semoga kita masih hidup besok, memaknai semua-semua-semua-semua ini. masih banyak yang dapat dikerjakan, masih banyak yang bisa ditunggu, selama kita belum mati, selama waktu belum benar-benar habis.
selamat tidur. jangan lupa bangun besok pagi!
naa
Monday, June 13, 2011
malam jari-jari
ingin, melupakan imajinasi dan kembali berpijak keluar nelangsa, melampaui apa yang diputar diacak dan ditapis menjadi gulungan digit
ekstensi menahun
mengikiri permukaan terkecil
menjadi malam lagi
yang serupa
berbuat salah yang sama bersama
Malam, katakan selamat tinggal pada diri sendiri,
biar kita beradu dalam mimpi, tanpa bekas, tanpa luka,
tanpa pahatan cacat.
naa
Sunday, June 5, 2011
bau hujan
kemarin saya mempertanyakan pertemanan, ketuhanan dan kemaknaan hidup saya hingga hari ini. lalu hari ini saya berdamai dengan hati dan memilih jalan pintas dengan hati-hati. Eksistensi diri ini harus mulai diukir lebih dalam agar tidak memutuskan lagi berhenti untuk maju.
Saya ingin hari baru, setelah malam ini tidur lelap dikeloni suara hujan, selingkuhan saya yang lain. Hari baru selalu akan datang, silih berganti dengan depresi sesekali yang akan menendang perut saya.
Tahun terbaik sudah berlalu. tapi saya ingin mencetak lebih banyak kalender keemasan dalam hidup saya berikutnya.
Lagi, bau hujan menjadi saksi bungkam janji saya pada diri saya, saya akan memaafkan diri saya dan siapa pun yang pernah menjadi tertuduh atas pertanyaan-pertanyaan saya tentang kehidupan yang memang tidak akan pernah adil.
Rahasia kelam biar terbuang dihapus hujan. Saya hanya tidak dapat mengeluarkan kamu dari kepala saya* , saya hanya bisa menciutkan porsi neurotransmitter ke area cetakanmu di otak saya.
*terjemahan dari : "I just can't get you out of my head..." dari lagu Kylie Minogue yang dinyanyikan ulang dengan aransemen akustik oleh Marian Dacal.
*bukan, saya bukan sedang memikirkan cinta mati saya. maaf.
naa
Friday, June 3, 2011
anak senja
karena engkau selalu cinta senja
yang dulu kita warnai sewaktu gemuruh pasang
dalam bualan-bualan buaian yang mencengangkan
berpegangan tangan di atas matahari yang turun
aku ingin mengandung anak senja yang engkau benihi di pinggir magrib
karena engkau adalah hari panjang
yang selalu setia tunduk pada senja tercintamu
naa
(terinspirasi dari ingatan bacaan "Sepotong Senja untuk Pacarku" karya Seno Gumira Ajidarma)
Sunday, May 29, 2011
keledaimu
saya pikir saya akan selalu jadi teman terbaik bagi teman-teman saya, tapi ada juga yang akan selalu harus saya lepaskan. Pernah ada teman yang saya buang atau saya khianati, tapi belum ada teman yang berkatnya saya tumbuh dewasa, namun setelah saya dewasa saya (entah dalam wujud apa) mungkin tidak lagi cukup kompleks untuk ditemani.
saya memahami, atau, berusaha keras memahami putaran kedekatan ini, dan mengakui bahwa ada saat-saat terbaik dalam hidup saya yang tidak dapat dipaksakan selalu berimbang. Mengesampingkan fakta bahwa pertemanan menempati bagian cukup besar di rongga tengkorak ini, saya berusaha untuk bersyukur untuk momen-momen kelam dan tolol dan penuh komplikasi yang pernah dipinjamkan-Nya lewat teman-teman malam saya.
Imajinasi adalah kemampuan yang paling dapat diaplikasikan saat ini, waktu boleh merampas hari-hari yang seakan tidak pernah redup di masa lampau, waktu boleh menuakan usia dan mengkelukan lidah saya saat bertemu teman saya yang dulu pernah berpegangan tangan dengan saya saat kami menangis dalam kecepatan 140 km per jam di tengah malam, menangisi dorongan-dorongan nasib yang akan melontarkan kami masing-masing ke pilihan-pilihan yang membuat jarak yang akan mengangkangi, saya tetap akan berimajinasi bahwa teman-teman terbaik tidak pernah pergi, mungkin mereka akan berhibernasi berpuluh-puluh bulan, dan mungkin mereka juga menyimpan saya dalam bentuk percikan impuls yang terbenam di lobus temporalis tempat ingatan tersimpan.
Saya benci belajar ikhlas, dan nyaris selalu diiris-iris karena saya harus terus mengulang kelas belajar ikhlas setiap kali saya dihampiri perubahan, namun saya berjanji pada diri saya untuk menyeret badan saya dan menunggu hari berikutnya, dalam bentuk pertemanan berikutnya, atau pun pertemanan lama yang bertransformasi. Saya hanya membagi apa-apa yang saya pikir pantas saya tulis di sini, karena sejak dimulainya periode damprat-mendamprat tanpa ampun melawan putaran kehidupan saya, saya mulai sulit menangis, padahal menangis adalah terapi terbaik saya, maka saya berbagi di sini dan berharap seorang teman membaca dan mengerti, dan kalau tidak mengerti dan menjadi berang, saya tetap akan bangga padanya dalam bentuk apa pun penampakan saya kini di kepalanya.
naa
(dibuang tanpa sebab atau mungkin untuk alasan yang terlalu susah saya cerna)
Friday, May 20, 2011
kamu kok jerawatan sih?
Suatu pagi saya sedang bertugas di lapangan badminton, main dokter-dokteraan mengenakan jas putih rapi terbaru. Lalu datang seorang ibu dengan tahi lalat besar di jidad, mengenakan baju coklat pegawai negeri.
Ibu itu entah siaapa, karena saya cuma tau nama, tidak pernah tau tentang riwayat hidupnya dan bagaimana bisa tahi lalat besar itu tumbuh di situ.
Tidak mengejutkan kalau saya menyadari kehadiran ibu itu dalam hidup saya selama bertugas beberapa minggu ini di puskesmas yang konon sudah terkenal teladan seantero DKI jakarta, karena ibu itu nyentrik, sepatu merah-kalung merah-gincu merah mencolok-celak versus eyeliner tebal. Seperti saya ingat menggarisi kata demi kata di textbook saya jaman kuliah dulu. Harus 3 kali, baru puas.
Saya ini juga perempuan dengan mulut pedas seperti kodrat saya sebagai perempuan, jadi penampakan semacam ini, tentu menggelitik bibir, atau, minimal batin, untuk menertawakan.
Anyway,
Kembali ke lapangan badminton, ibu ini pun tiba-tiba duduk di samping saya. Dalam catatan sejarah hidup saya, itu lah kali pertama dia bicara pada saya,
“Kok jerawatan sih? Berobat dong..”
Bukan “nama kamu siapa”
Atau “dari universitas ini ya?”
Atau “sudah berak belum pagi ini?” (pertanyaan ini tentu akan aneh, tapi percayalah, ini lebih sopan ditanyakan)
Mari tidak usah membahas apa jawaban saya, karena dengan penampilan muka saya yang memang jerawatan (terpaksa mengikuti anekdot umum) saya sih sudah biasa mendengar hal itu. Kadang-kadang masih suka sebal, dan sekali ini malah merasa ajaib.
Ini adalah paradigma klasik kronik di Indonesia. Jerawatan adalah penyakit, saya yang sudah mau masuk tahun keenam di sekolah dokter-dokteran tidak membantah hal ini, tapi pandangan orang mengenai penyakit ini tidak seperti kita memandang penyakit lain, seperti kaki gajah misalnya (saya rasa tidak akan ada oknum yang datang ke pasien penderita kaki gajah dan berkata “kok bengkak sih kakinya, berobat dong!”) padahal penampakan kaki gajah lebih jelek dari penampakan jerawat. Tapi itu cuma kaki, bukan wajah.
Mungkin karena wajah adalah bagian yang paling mudah terlihat, dan dalam paradigma ini, wajah dianggap sebagai gambaran strata. Yang jerawatan, dan yang tidak jerawatan. Strata ini pun berlaku di salon, karena yang jerawatan akan dapat tambahan kata-kata dari si tukang make up “mbak nya foundation nya musti lebih tebal nih, nutupin bopeng-bopengnyaah”. Dan ini bagi saya menyedihkan, bukan karena untuk sebagian orang kata-kata ini menyakitkan, tapi karena kedangkalan dari anggapan bahwa jerawatan itu salah sampai harus diprotes demikian, bukan jerawatan itu sebagai penyakit.
Seperti, saya tidak akan mengatakan pada ibu dengan tai lalat besar di jidad itu : “bu, coba ibu ngaca 3 kali seperti lagi ambil wudhu, sebelum berangkat kantor, apakah asesoris-asesoris itu matching dengan tahi lalat ibu”, tentu tidak kan? Betapa pun janggalnya penampakan ibu itu di mata saya, karena, di samping saya yakin dia akan meludahi pipi saya yang ada jerawat batu kalau saya berkata begitu :p
itu adalah seleranya dalam berpakaian, karena tahi lalat besar dan salah posisi itu pun adalah penyakitnya. Saya tidak berhak memprotes penyakitnya. Karena saya berani taruhan, hem apa lagi ya, ah, seporsi somay ikan sapu-sapu asongan, ibu itu tentu tidak pernah menginginkan tahi lalat besar itu diletakkan di situ.
Proteslah pada sesuatu yang memang dikerjakan orang itu, jangan pada apa-apa yang sedang dicobakan Tuhan pada Nya (dengan asumsi, jerawatan = penyakit = cobaan Tuhan)
selamat merenung!
naa
aku lewat jalan rumahmu magrib tadi
"Aku lewat jalan rumahmu magrib tadi
Masih dengan keramaian jalanan kampung yang biasa
Mataku masih jatuh pada ban mobil tetanggamu yang sama
Yang sudah kulakukan sejak 3 tahun yang lalu
Aku ingat melewati jalan ini dengan berganti-ganti perasaan
Saat-saat aku marah atau lega
Saat-saat mengumpat dan bermulut binatang
Ada waktu aku berdebar-debar akan bertemu keluargamu
Ada waktu kita pernah saling berteriak selama melintas jalan itu
Lebih banyak lagi waktu perasaanku kacau balau
Aku lewat jalan rumahmu magrib tadi
Sudah banyak perubahan di sana-sini
mataku sudah menatap rumah-rumah yang mulai pudar catnya
yang dulu sering kuperhatikan sejak 3 tahun yang lalu
aku masih ingat rasanya lewat jalan itu lagi tadi
saat-saat aku tidak lagi berbelok ke arah rumahmu
saat-saat aku hanya melihatnya sekilas lewat spion tengahku
ada waktu aku menangis teringatmu saat melintas di sana
ada waktu aku lebih banyak menghindar dan memilih memutar
tapi tadi aku tidak melakukan itu
waktu-waktu yang berat sudah berlalu
dan aku cukup lega kita pura-pura saling tidak tau
setiap kali kita berpapasan di jalan itu"
Selamat tengah malam, folks,
ini adalah puisi yang saya tulis (kalau tidak salah) tiga tahun yang lalu. Beberapa bulan setelah melewati periode hidup yang saya sebut "The Broken Brain". Ada saat-saat logika runtuh dan otak sepertinya sedang rusak, dan ada yang bilang itu namanya sedang cinta karena cinta tidak bisa pakai otak (mengutip anekdot umum). Saya berani traktir baso moncrot di dekat rumah saya kalau ada orang yang tidak pernah melewati fase ini. karena kita semua rasanya pernah tergila-gila, dalam level dari 1 sampai 1000.
1000 artinya tidak waras, 1 sampai 10 bagi saya masih wajar. saya pernah di 900, yang saya maknai : tidak ada orang lain yang saya sayangi dalam hidup saya saat itu yang mampu membuat saya menangis hampir setiap hari.
Kalau kamu?
naa