Wednesday, May 14, 2014

the good night

because I cant sleep
and start crying hard
now my stomach hurts
like a giant black hole sucking them
and my heart's pounding
irregularly
my breath shortens
it seems too hard to take the air in
now i'm tired
my eyes are just too heavy
good night
I survive my demon tonight
i'm so sorry. i'm still the same person I made as a foe in the past.

naa

Tuesday, May 13, 2014

H


Suara kepalaku bernama H. Ia adalah kenalan terlama yang kupunya, sejak kala pertama aku mengingat, H sudah disertakan di dalamnya. Aku tidak pernah tahu wujud H, juga tidak pernah tahu bagaimana bentuk suara H bila ia punya pita suara. Bunyi yang dikeluarkannya bukan bersumber dari sana, tapi mungkin dari resonansi suatu bagian otak yang kupunya.
H berbunyi sepanjang hari, tapi H tidak pernah mengajakku bicara. H ikut berbicara sesuai pikiranku, ia tidak pernah menjadi subjek lain yang menjadikanku subjek orang ketiga, sehingga kami tidak pernah bekenalan secara resmi, ia tidak menyebutkan namanya, sebenarnya akulah yang menamainya H. Entah mengapa aku menamainya demikian, H adalah kenalan terlama yang kupunya, kebanyakan kita tidak dapat begitu mengingat satu dari banyak alasan yang pernah dibuat selama kita mengenal orang berpuluh-puluh tahun. Bulan ini aku merayakan ulang tahunku kedua puluh enam, maka kurasa kurang lebih segitulah usia perkenalanku dengan H.
Meskipun kami tidak pernah saling berbicara, H-lah yang berperan paling banyak berperan dalam pengambilan keputusanku, H, entah bagaimana caranya dapat berbentuk seperti lubang hitam yang menghisap apa pun termasuk semua perkataan semua orang dan mencernanya seperti yang kamu lakukan di dalam perutmu saat menelan sepiring nasi. Lalu, entah bagaimana caranya H akan menanamkan keputusan itu padaku.
Hidup selalu lebih mudah bila H yang memutuskan, aku tidak pernah punya keberanian sebesar yang dimiliki H, atau sebesar yang selalu aku tulis di dalam tulisan-tulisanku yang lain. Bila H yang memutuskan, semua orang akan gembira dan mengakui kebenaran keputusan. Seperti memutuskan untuk memilih baju dari rak baju di toko, tentu akan lebih aman kalau memilih dari rak best seller.
H selalu lebih besar dari hati, mungkin H berukuran sebesar pikiran, yang secara abstrak kuanggap berukuran tigaperempat dari total keseluruhan diri.  Sampai suatu hari aku memutuskan untuk membunuh H, karena H sudah berbohong selama 12 tahun. Mula-mula H berbohong kecil-kecil, lalu lama-lama H membohongi pikiranku sampai pikiranku terpusat jadi satu dan menolak sistem yang benar. Dan semua orang yang mengira H adalah aku, terbengong-bengong, dan beranjak pergi.”

Untuk kalian yang tak sempat mendengar. Biar saya bicara lewat telepati dan kabel-kabel imajiner yang tersambung ke kepala kalian, sehingga tidak ada rejeksi, karena kalian tidak tahu saya menyampaikan pesan lewat kabel-kabel itu, sebut saja ini arus satu sirkuit.
Setelah kalian bilang soal peduli dan menceramahi saya tentang kekecewaan,  saya tidak jadi bunuh diri. Bukan, saya tidak lagi berpikir mau bunuh diri. Saya sudah jera membunuh diri.  Setelah kalian pergi dan berpuasa bicara, sekarang saya bisa mendengar suara kepala saya sendiri. Setelah selesai menangisi ketidakbahagiaan, hari ini saya bersepakat dengan diri untuk berbahagia. Kalian tidak paham, tentu tidak ingin paham. Karena kita berteman lama, saya tidak ingin tidak bicara lebih lama.
Sesungguhnya, yang sekali ini, adalah upaya saya yang paling berani untuk mendengarkan kata hati, saking terlalu lama tidak pernah berani sampai detik ini pun saya masih canggung mendengarkan hati.  Hidup saya telah lama berpusat pada apa yang saya pikir paling sesuai, hidup saya selama ini saya ini cukup berlogika.

Kini, sudah lepas bulan pertama, kedua dan ketiga sampai saya lupa bagaimana menangisi kalian pergi. Saya tidak lagi sakit hati. Ini adalah momen yang saya janjikan, mengerti atau tidak mengerti, marilah berdamai, saya tidak lagi berada di bab yang sama dengan bingkai kalian. Mari bergegas, kita sudah tuntas. 


naa

Saturday, March 23, 2013

berangkat senja

selamat jalan matahari kecil
kutunggu labuhanmu di hari esok lagi
menggeliat air tersibak dayungmu
berapa lama pun hari memanjang aku akan mengejarmu rindu
tak akan pergi kecupku di keningmu yang ikut mengangkat sauh
sealir air yang pelan mulai berdiam kulanjutkan langkah menyusuri dermaga hidup
senja merengkuh perahumu hangat
sehangat senyummu memanggil di pematang magrib


naa

i'll be missing you too much, granny

Monday, January 14, 2013

gulaku

"dalam pekat kopimu tak bergula
ada waktu yang terasa tak berbatas
bersyair di depan matamu
mengawasi kedip dan membatin kagum
dalam diameter kelopak mataku membuka
kata-katamu tanpa pemanis
 seperti kopi yang tidak pantas dilabel manis"


teman terbaik menenggak segelas kopi adalah obrolan panjang tanpa obralan atau senyuman idiot saling menatap dan latte-ku nyaris tidak butuh ekstra gula, tatapanmu sudah menawar pahit.



naa

Sunday, January 13, 2013

cabut ubi


Ada ratusan cerita cinta yang pernah saya dengar, beberapa dialami sendiri, beberapa diceritakan lewat film, buku, mulut-mulut orang bahkan lewat mimpi. Ratusan ending  dan ratusan klise. Saya selalu menyukai sad-ending, di setiap cerita cinta fiktif macam apa pun, sad-ending tidak pernah menumbuhkan senyum selebar badut atau membiarkan kita berkhayal lebih indah. sad-ending memukuli kita supaya realistis dan membawa pulang puluhan pikiran setelah meninggalkan bioskop.
Salah satu pikiran yang rutin saya bawa pulang atau menggantung di kepala sesudah membaca cerita cinta dengan sad-ending, sering kali adalah; bagaimana mereka bergerak kembali ke kehidupan masing-masing setelah berkali-kali berusaha mencampurkan kehidupan mereka? Sebenarnya bagaimana cara menjalankan kalimat ‘Tidak dapat hidup tanpa kamu”?

Dalam salah satu cerita cinta kecil yang saya tahu, ada dua orang yang bertemu dan menghabiskan waktu berbicara sejak bangun pagi sampa kembali tidur menjelang pagi. Tanpa sengaja menemukan kenyamanan, jembatan lain untuk hati supaya jatuh bagi satu sama lain. Laki-laki itu menyukai perempuan itu dengan berbagai alasan, dan perempuan itu menyukai laki-laki itu karena segala alasan yang ia percaya membuatnya merasa sedit lebih baik dalam hidupnya yang mulai didereti kebosanan nyaris mendatar. Entah siapa yang lebih menyayangi siapa, namun di dalam cerita cinta kecil yang saya tahu, harus diputuskan selesai setelah lewat berbulan-bulan penuh tanya.

Setelah melalui drama menyayat hati yang saya nikmati, dialog-dialog manis dan permohonan untuk tidak pergi dari laki-laki itu yang membuat bibir terkatup rapat, perempuan itu lumpuh sebentar menghadapi handphone yang berhenti berkedip merah dan mulai sadar hatinya terasa seperti ubi yang baru dari tercabut dari tanah, terasa bolong dan kosong sedikit.  

Perempuan itu tidak pernah sampai di persimpangan klise untuk memilih, serupa dalam cerita cinta segitiga, sedangkan laki-laki itu pun berhenti dan dengan berat terikut janji saling melupakan. Tidak pernah ada pertanyaan klise ‘bagaimana saya bisa hidup tanpa kamu?’  karena cinta sebesar apa pun tidak akan pernah menyatukan nafas dua orang, tidak ada ketergantungan yang mematikan seperti yang terjadi pada kembar siam.

Dalam cerita cinta kecil yang saya tahu, tidak pernah ada mimpi yang dibagi dan hasrat yang dipinjamkan, mereka seolah berkawan kenyamanan dan saling menyukai kemudian memutuskan berhenti sebelum segala sesuatu menjadi saling menyakiti dan untuk alasan yang mereka buat masing-masing. Yang saya dengar terakhir, perempuan itu menulis kata-kata dan puisi-puisi pintu darurat lebih baik lagi setelah menikmati perasaan tercabut ubinya.  Tidak ada air mata, hanya sad-ending yang tidak pernah disayangkannya. Mengikhlaskan membuatnya berdamai dengan kenangan yang sesekali membekukan pikiran setiap teringat detail tentang cerita cinta kecil itu.

Saya tidak pernah lagi mendengar tentang laki-laki itu, tapi saya pun berharap dia menikmati sad-ending ini seperti saya dan perempuan itu, mungkin lebih sukar karena laki-laki itu yang diminta pergi, tapi suatu hari kenangan yang pernah terjadi tentu akan membuatnya tertawa kecil karena biar bagaimana pun, waktu mengurangi kadar kesakitan.

Pikiran yang saya bawa pulang setelah mendengar cerita cinta kecil yang saya tahu itu; bukanlah pikiran perandaian bagaimana bila mereka memutuskan bersama dan melangkahi batas kewajaran yang mereka buat, tapi bagaimana cara mereka kembali pada kenyataan? Bagaimana cara mereka menyimpan kenangan yang sudah dibuat? Dan bagaimana mereka menepati janji yang dibuat diam-diam untuk saling menyapa jika sudah waktunya bertemu? Di suatu tahun, di suatu tempat, setelah semua perasaan kembali ke titik nol, seperti apa peempuan itu akan tersenyum dan menyapa?

Berkali-kali pikiran-pikiran itu berterbangan di dalam kepala saya dan pada akhirnya saya menanyakan jawabannya pada perempuan itu, yang sudah mencoretkan puluhan puisi di bukunya tentang cerita cinta kecil yang saya tahu. Terjawab sudah, perempuan itu menyusutkan kenangannya menjadi benda kecil berupa cendera mata bagi pikirannya, dan menghapus semua jejak laki-laki itu dari memory  semua hardware dan menyisakan sedikit di messenger yang tak pernah dibukanya serta tiga buah lagu dari dua band dan satu DJ, dia bilang akan tersenyum kecil saja bila bertemu laki-laki itu, dia tidak mau tersenyum lebar. Siapa tahu.... laki-laki itu tidak mengenal atau urung menyapanya ia bisa segera menyembunyikan senyum dan pura-pura tidak melihat juga kalau senyumnya tidak lebar.

Happy-ending di dalam cerita fiktif akan membuat senyum super dan hati terasa berbunga, tapi berlalu tanpa membuat saya berpikir. Berkat ratusan cerita cinta yang saya nikmati dan beberapa bentuk sad-ending yang saya ketahui, membuat imajinasi dan kearifan saya tergelitik dan, somehow, membuat saya merasa hidup saya seperti adegan film.  Atau mungkin...saya harus sedikit mengurangi buku dan film cinta yang terlalu sentimentil!

Sambil menulis tulisan ini saya mendengarkan lagu lama dari album kedua Savage Garden The Lover after Me yang terasa pas menjadi soundtrack tulisan ini. Mereka bilang : ever since you’ve been gone, the lights go out the same, the only different is you call another name to your love, the lover after me.. mungkin, seberagam apa pun kisahnya dan ending-nya, segala sesuatu tetap akan berlangsung sama saja dengan alur berbeda dan sedikit twist, karena yang terpenting bukan kisahnya atau ending –nya, tapi nama siapa yang kita sebut entah dengan penuh cinta atau penuh sakit hati.
Mungkin loh ya...


naa

Thursday, October 4, 2012

cyanocobalamin



yang paling bontot ditulis di kertas resep saya
kadang-kadang jadi satu-satu pilihan setiap kali seseorang datang pada saya dan bilang pegal-pegal
belakangan jadi solusi nakal dan brilian :
intramuskular

seandainya ada keputusan sepintas itu
untuk menuang habis ideologi saya ke dalam pikiran seseorang tanpa perlu dicerna
tinggal bilang "sepakat!"


naa

Monday, October 1, 2012

make-up pouch

tanpa tersadar
kamu menjadi komplotan terpenting saya
di setiap perjalanan tak bermalam di rumah,
menampung cairan-cairan ajaib
atau kabel-kabel berbelit
ternoda di sana-sini
beraroma aneka rupa

tanpa tersadar
kamu hampir sepenting kepala saya
dan hari ini kamu menemukan akhir
berbesar hati berhenti menemani
karena sudah tak lengkap lagi
kamu akan diganti seperti benda-benda
dan orang-orang lain yang saya ganti

tapi terima kasih untuk siapa ppun yang menemukan
dan menjajakanmu,
seperti lagu rutin selamat tinggal yang biasa kutembang :
kita sudah tidak sejalan, sudah berbeda kenyamanan,
mengapa saling menyusahkan?


naa


(melepaskan benda-benda yang biasa menempel setiap hari entah kenapa terasa seperti melepas orang yang saya sapa pertama kali di pagi hari)