Saturday, March 23, 2013

berangkat senja

selamat jalan matahari kecil
kutunggu labuhanmu di hari esok lagi
menggeliat air tersibak dayungmu
berapa lama pun hari memanjang aku akan mengejarmu rindu
tak akan pergi kecupku di keningmu yang ikut mengangkat sauh
sealir air yang pelan mulai berdiam kulanjutkan langkah menyusuri dermaga hidup
senja merengkuh perahumu hangat
sehangat senyummu memanggil di pematang magrib


naa

i'll be missing you too much, granny

Monday, January 14, 2013

gulaku

"dalam pekat kopimu tak bergula
ada waktu yang terasa tak berbatas
bersyair di depan matamu
mengawasi kedip dan membatin kagum
dalam diameter kelopak mataku membuka
kata-katamu tanpa pemanis
 seperti kopi yang tidak pantas dilabel manis"


teman terbaik menenggak segelas kopi adalah obrolan panjang tanpa obralan atau senyuman idiot saling menatap dan latte-ku nyaris tidak butuh ekstra gula, tatapanmu sudah menawar pahit.



naa

Sunday, January 13, 2013

cabut ubi


Ada ratusan cerita cinta yang pernah saya dengar, beberapa dialami sendiri, beberapa diceritakan lewat film, buku, mulut-mulut orang bahkan lewat mimpi. Ratusan ending  dan ratusan klise. Saya selalu menyukai sad-ending, di setiap cerita cinta fiktif macam apa pun, sad-ending tidak pernah menumbuhkan senyum selebar badut atau membiarkan kita berkhayal lebih indah. sad-ending memukuli kita supaya realistis dan membawa pulang puluhan pikiran setelah meninggalkan bioskop.
Salah satu pikiran yang rutin saya bawa pulang atau menggantung di kepala sesudah membaca cerita cinta dengan sad-ending, sering kali adalah; bagaimana mereka bergerak kembali ke kehidupan masing-masing setelah berkali-kali berusaha mencampurkan kehidupan mereka? Sebenarnya bagaimana cara menjalankan kalimat ‘Tidak dapat hidup tanpa kamu”?

Dalam salah satu cerita cinta kecil yang saya tahu, ada dua orang yang bertemu dan menghabiskan waktu berbicara sejak bangun pagi sampa kembali tidur menjelang pagi. Tanpa sengaja menemukan kenyamanan, jembatan lain untuk hati supaya jatuh bagi satu sama lain. Laki-laki itu menyukai perempuan itu dengan berbagai alasan, dan perempuan itu menyukai laki-laki itu karena segala alasan yang ia percaya membuatnya merasa sedit lebih baik dalam hidupnya yang mulai didereti kebosanan nyaris mendatar. Entah siapa yang lebih menyayangi siapa, namun di dalam cerita cinta kecil yang saya tahu, harus diputuskan selesai setelah lewat berbulan-bulan penuh tanya.

Setelah melalui drama menyayat hati yang saya nikmati, dialog-dialog manis dan permohonan untuk tidak pergi dari laki-laki itu yang membuat bibir terkatup rapat, perempuan itu lumpuh sebentar menghadapi handphone yang berhenti berkedip merah dan mulai sadar hatinya terasa seperti ubi yang baru dari tercabut dari tanah, terasa bolong dan kosong sedikit.  

Perempuan itu tidak pernah sampai di persimpangan klise untuk memilih, serupa dalam cerita cinta segitiga, sedangkan laki-laki itu pun berhenti dan dengan berat terikut janji saling melupakan. Tidak pernah ada pertanyaan klise ‘bagaimana saya bisa hidup tanpa kamu?’  karena cinta sebesar apa pun tidak akan pernah menyatukan nafas dua orang, tidak ada ketergantungan yang mematikan seperti yang terjadi pada kembar siam.

Dalam cerita cinta kecil yang saya tahu, tidak pernah ada mimpi yang dibagi dan hasrat yang dipinjamkan, mereka seolah berkawan kenyamanan dan saling menyukai kemudian memutuskan berhenti sebelum segala sesuatu menjadi saling menyakiti dan untuk alasan yang mereka buat masing-masing. Yang saya dengar terakhir, perempuan itu menulis kata-kata dan puisi-puisi pintu darurat lebih baik lagi setelah menikmati perasaan tercabut ubinya.  Tidak ada air mata, hanya sad-ending yang tidak pernah disayangkannya. Mengikhlaskan membuatnya berdamai dengan kenangan yang sesekali membekukan pikiran setiap teringat detail tentang cerita cinta kecil itu.

Saya tidak pernah lagi mendengar tentang laki-laki itu, tapi saya pun berharap dia menikmati sad-ending ini seperti saya dan perempuan itu, mungkin lebih sukar karena laki-laki itu yang diminta pergi, tapi suatu hari kenangan yang pernah terjadi tentu akan membuatnya tertawa kecil karena biar bagaimana pun, waktu mengurangi kadar kesakitan.

Pikiran yang saya bawa pulang setelah mendengar cerita cinta kecil yang saya tahu itu; bukanlah pikiran perandaian bagaimana bila mereka memutuskan bersama dan melangkahi batas kewajaran yang mereka buat, tapi bagaimana cara mereka kembali pada kenyataan? Bagaimana cara mereka menyimpan kenangan yang sudah dibuat? Dan bagaimana mereka menepati janji yang dibuat diam-diam untuk saling menyapa jika sudah waktunya bertemu? Di suatu tahun, di suatu tempat, setelah semua perasaan kembali ke titik nol, seperti apa peempuan itu akan tersenyum dan menyapa?

Berkali-kali pikiran-pikiran itu berterbangan di dalam kepala saya dan pada akhirnya saya menanyakan jawabannya pada perempuan itu, yang sudah mencoretkan puluhan puisi di bukunya tentang cerita cinta kecil yang saya tahu. Terjawab sudah, perempuan itu menyusutkan kenangannya menjadi benda kecil berupa cendera mata bagi pikirannya, dan menghapus semua jejak laki-laki itu dari memory  semua hardware dan menyisakan sedikit di messenger yang tak pernah dibukanya serta tiga buah lagu dari dua band dan satu DJ, dia bilang akan tersenyum kecil saja bila bertemu laki-laki itu, dia tidak mau tersenyum lebar. Siapa tahu.... laki-laki itu tidak mengenal atau urung menyapanya ia bisa segera menyembunyikan senyum dan pura-pura tidak melihat juga kalau senyumnya tidak lebar.

Happy-ending di dalam cerita fiktif akan membuat senyum super dan hati terasa berbunga, tapi berlalu tanpa membuat saya berpikir. Berkat ratusan cerita cinta yang saya nikmati dan beberapa bentuk sad-ending yang saya ketahui, membuat imajinasi dan kearifan saya tergelitik dan, somehow, membuat saya merasa hidup saya seperti adegan film.  Atau mungkin...saya harus sedikit mengurangi buku dan film cinta yang terlalu sentimentil!

Sambil menulis tulisan ini saya mendengarkan lagu lama dari album kedua Savage Garden The Lover after Me yang terasa pas menjadi soundtrack tulisan ini. Mereka bilang : ever since you’ve been gone, the lights go out the same, the only different is you call another name to your love, the lover after me.. mungkin, seberagam apa pun kisahnya dan ending-nya, segala sesuatu tetap akan berlangsung sama saja dengan alur berbeda dan sedikit twist, karena yang terpenting bukan kisahnya atau ending –nya, tapi nama siapa yang kita sebut entah dengan penuh cinta atau penuh sakit hati.
Mungkin loh ya...


naa

Thursday, October 4, 2012

cyanocobalamin



yang paling bontot ditulis di kertas resep saya
kadang-kadang jadi satu-satu pilihan setiap kali seseorang datang pada saya dan bilang pegal-pegal
belakangan jadi solusi nakal dan brilian :
intramuskular

seandainya ada keputusan sepintas itu
untuk menuang habis ideologi saya ke dalam pikiran seseorang tanpa perlu dicerna
tinggal bilang "sepakat!"


naa

Monday, October 1, 2012

make-up pouch

tanpa tersadar
kamu menjadi komplotan terpenting saya
di setiap perjalanan tak bermalam di rumah,
menampung cairan-cairan ajaib
atau kabel-kabel berbelit
ternoda di sana-sini
beraroma aneka rupa

tanpa tersadar
kamu hampir sepenting kepala saya
dan hari ini kamu menemukan akhir
berbesar hati berhenti menemani
karena sudah tak lengkap lagi
kamu akan diganti seperti benda-benda
dan orang-orang lain yang saya ganti

tapi terima kasih untuk siapa ppun yang menemukan
dan menjajakanmu,
seperti lagu rutin selamat tinggal yang biasa kutembang :
kita sudah tidak sejalan, sudah berbeda kenyamanan,
mengapa saling menyusahkan?


naa


(melepaskan benda-benda yang biasa menempel setiap hari entah kenapa terasa seperti melepas orang yang saya sapa pertama kali di pagi hari)

Friday, August 31, 2012

Antares

bintangmu tumpah
di atas karpet gelap
dan di antara seribu anonim
warna kuningmu menjadi bernama

engkau aman
disisipkan di balik pikiran
berlindung dalam diam-diaman perkataan
dan menyerah berakhir di kedipan fajar


naa


(semalam suntuk bertengkar, sepanjang siang berkelar)


stepping stones

Suatu hari ada kabar yang mewarnai kebosanan saya di desa tempat saya tinggal, seseorang dari cerita dulu (tidak terlalu lampau) punya pacar baru, diumumkan lewat display picture bbm yang berganti jadi foto berdua dengan seseorang baru (judulnya pacar baru, saya pun baru tau orangnya), berhubung saya tidak mengaktifkan feature recent updates dalam rangka menapis dosa lantaran mengomentari personal message di daftar contacts saya, saya diberitau kabar tersebut oleh teman baik saya.
Saya belum menanyakan kabar tersebut langsung pada orangnya, tapi dari segelintiran bicara-bicara kabar tersebut terkonfirmasi. Dan seorang teman menanyakan dengan nada usil, “bagaimana perasaannya, Na?” whoaa... mungkin bermaksud menggoda, tapi saya menjawab dengan serius, perasaan saya baik-baik saja, happily surprised! Meskipun kesungguhan saya terus diragukan, tapi saya menjawab dengan jawaban yang sama setiap kali ditanyakan hal serupa.

Lagipula apa alasannya saya tidak gembira?

Tanpa bermaksud membahas hubungan yang sudah lewat, saya pikir memang ini berita yang tergolong melegakan, mengingat banyaknya jumlah air mata dan emosi yang tertera di dalam sejarah hubungan tersebut. Dan secara personal, adalah beban batin bagi saya bila saya berpikir bahwa saya menjadi alasan seseorang bersedih, entah bagaimana pun faktanya. Biar bagaimana pun buruknya pernyataan yang dikeluarkan orang-orang di sekitar saya mengenai sejarah ini, saya selalu memercayai bahwa semua orang adalah orang baik. Hanya sesekali saja lepas kendali. Hanya sesekali kita butuh pernyataan berhenti, dan inilah alasan mengapa sejarah semacam tersebut diakhiri.
Lalu ada teman lain yang tertawa-tawa dan mengatai saya jealous melihat reaksi pertama saya yang penasaran setengah mati. Hem, mari kita telaah reaksi semacam ini. Hal ini jelas awam terjadi pada hampir semua perempuan manapun. Ada yang dengan alasan narsistik bermaksud mengkomparasi, lalu mencari-cari kekurangan, ada yang bermaksud mengata-ngatai perempuan baru yang berhasil merebut sang pacar lama, bahkan mencari  kemiripannya dengan pacar baru sang mantan untuk memastikan bagi diri sendiri bahwa sang mantan sengaja cari pacar setipe karena belum move on, well, kali ini saya tidak begitu! Hahaha. (ingat kalimat saya sebelumnya, hal ini jelas terjadi pada hampir semua perempuan manapun)   

Lagipula apa alasannya saya jealous?

Lagi, tanpa bermaksud membahas hubungan yang sudah lewat, saya pikir kecemburuan tidak tepat digunakan di sini. Ketika kita berhasil menempatkan seseorang yang tadinya sangat kita sayangi bergeser menjadi orang yang kita hormati, rasa kepemilikan sepenuhnya bergeser dari skala seratus menjadi nol. Jadi tidak lagi ada porsinya perasaan semacam itu. Yah meskipun terdengar tidak bisa dipercaya, tapi bagi saya ini masuk akal, dan rasanya menggelikan saat orang-orang tidak percaya, yah, bukan barang baru terjadi benturan cara berpikir saya dengan kaidah-kaidah yang berlaku umum.
Tulisan ini terilhami dari banyaknya pertanyaan aneka bentuk tentang perasaan saya, mengapa malah saya yang jadi sorotan? Saya pikir mungkin meskipun kabar gembira ini bukan datang dari saya, tapi kabar gembira ini ikut berefek pada saya, saya jadi gembira, makanya orang-orang menanyakan perasaan saya, memastikan saya gembira juga atau tidak.
Saya gembira, sungguh. Kalau ada yang bilang kabar ini baru terdengar selang cukup lama sehingga tidak cukup lagi menyakiti saya, itu salah besar, kalau pun terdengar selang seminggu, saya akan tetap gembira. Dan pertanyaan terakhir yang membuat saya tersenyum, “kok gembira, Na?” , karena sekali lagi teori saya terbukti : ‘Kita selalu takut melepas pegangan karena takut terjatuh, lalu pada akhirnya kita dipaksa melompat dan akan terkaget-kaget mengetahui kita punya dua kaki untuk mendarat.’ Saya gembira saya tercantum dalam sejarah hidupnya, pernah menjadi bagian dari pelajaran pahitnya dan menjadi loncatan untuk keberanian menulis sejarah lebih baru, itulah kenapa saya merasa gembira!

naa


 p.s 

meskipun waktu tidak pernah jadi sahabat sejati yang tidak menyebalkan,
tapi waktu selalu jadi penyembuh terbaik untuk perasaan sakit yang dikira menetap,
:) :) selamat jatuh cinta lagi! Saya bangga sama kamu!


“broken heart won’t kill you, you’ll still be alive after all this through and you’ll find someone else to love, you’re just gonna be fine!” (seorang teman yang bilang, dari teman lain yang mengata-ngatainya demikian saat dia menangis pasca putus pacar).