Thursday, October 13, 2011
question mark
Sunday, September 25, 2011
rahasia
Morning Folks,
Bagaimana malam minggunya? Akhir-akhir ini malam minggu jadi icon penting dalam hidup saya yg mulai terasa monoton. Bukan hanya malam mingguan dengan pacar, mostly malam minggu saya dilalui bersama genk gong abadi saya, either menggila di karaoke room atau sekedar ngumpul di rumah saya. Sejujurnya pilihan spending Saturday nite with whom saya sih cuma sedikit ; genk gong; pacar; atau cable tv.
Tadi malam acara malam minggu saya berakhir kurang menyenangkan karena penyakit kronis saya kambuh, beradu keras dengan gaster si lambung lucu dan saya muntah-muntah. Bukan karena habis mabok, tapi karena minum kopi. Muntah itu nggak enak lho, ketika makanan lewat di saluran makan dengan arah sebaliknya itu enggak ada nikmatnya sama sekali. Anyway, tim saya juga enggak lengkap malam itu, rencananya mau menggila di karaoke, tapi kemampuan menunggu saya dan teman-teman saya sedikit di bawah standar, dan itu adalah malam minggu dimana hampir semua umat ingin olah vokal, maka jadinya batal.
Malam saya diawali dari berkumpul di kamar saya, girls talk dengan dua pacar perempuan saya sementara menunggu yang laki-laki menyusul. Saya kangen sekali sama mereka, setelah seminggu menghabiskan waktu di kaamar bersalin dan hidup saya hanya ibu2 ngangkang, laptop dan tidur. Waktu tidak pernah berhasil memudarkan kegilaan kami yang usianya tetap belasan tahun. Maksudnya adalah, cara kami bicara satu sama lain, berteriak, dan topik-topik yang dibahas.
Saya selalu suka rahasia dan dibuat penasaran! Tadi malam itu, saya diberitahu rahasia super besar dan saya ternganga super lebar. Saya nggak mungkin menulis rahasia itu di blog saya, tapi saya merasa penting mencatat perasaan saya malam itu. Super salut! Itu kata kuncinya! Rahasianya adalah sedikit tentang keberanian. Keberanian untuk mengakui diri dan bersikap jujur. Sesuatu yang jaraaaaang sekali saya bisa pegang kuat.. mostly kita ini lebih senang untuk “lebih baik tidak dibicarakan daripada jadi ribut”, kita senang menyimpan kejujuran ketika kejujuran itu menyakitkan. Saya termasuk orang yg kalau memang saya tidak perlu diberitau fakta menyakitkan, sekalian saja enggak usah. Ekstremnya, saya akan fine saja kalau pacar saya mau flirting di belakang saya, tapi jangan sampai saya tau atau jangan sampai saya mencium jejak itu, well, mengintip sedikit itu jauh lebih membuat mati penasaran lho.
Jadi saya sangat salut sama teman saya dan ingin menciumnya seperti saya mencium adik perempuan imajiiner saya. Biarpun kejujuran yang diakuinya agak mengejutkan untuk orang seperti saya ini yang sedikit konvensional, tapi saya angkat topi untuk pilihannya. Hem, kita patut belajar dari hal ini, berani berdiri jujur di atas segala tumpukan sampah konsekuensinya.
Tapi sampai batas mana ya kita harus selalu jujur? Ahaha. Sepertinya saya akan tetap memakai prinsip saya yang menghalalkan white lies dan saya tetap menghormat bungkuk pada sesiapa pun yang mencintai kejujuran telanjang.
Sekian
naa
Wednesday, September 14, 2011
kirimi aku kartu pos, kawan!
mengapa mereka harus mematikan diri?
seolah baka akan diperoleh dengan mudah sesudah itu
setelah meregang nyawa begitu berat
memangnya kemana mereka sesudah itu?
tidak ada yang menjanjikan akan bahagia sesudahnya
mengapa merelakan nyawa yang tidak bergaransi
bila tiada jaminan akan kebaikan di atas kematian yang tidak dapat ditukar lagi
mengapa rela menggantung diri dan terhina?
mengapa kejam mengiris pergelangan tangan dan memanen berjuta perih?
mengapa mudah berkawan maut padahal di buku bilang ia tak kenal ampun
seolah tak ada jalan lagi di dunia ini sepicing mata pun
seolah mati adalah kepastian penghabisan kesengsaraan
taukah mereka bahwa ratusan jiwa memohon hidup selamanya?
sebagian lagi meminta Tuhan sekedar menunda penjemputnya dan teronggok vegetatif seolah segan hidup.
mengapa, kawan, kamu putuskan hengkang dari hidupmu?
adakah kamu akan bertemu Tuhan dengan bangga di sana?
ah, kudoakan semoga kamu berdamai denganNya di sana
sampaikan salamku pada Tuhan yang Maha baik
dan jangan lupa kirimi aku kartu pos, kawan,
aku ingin sekali tau kabarmu..
naa
dedicated to people who had commited suicide, and everyone who
is planning to..
Saturday, August 13, 2011
bersakit-sakit dahulu bersenang-senang entah kapan
malam-malam tanpa tidur
manipulasi demi manipulasi
kebodohan maha tolol
maupun saat-saat tertidur sambil berdiri
saya akan merindukan terjaga sampai pagi di depan laptop
atau di depan genangan darah atau di depan bayi mungil,
saya akan tersenyum geli suatu hari nanti mengingat perintah-perintah sialan
dan sebutan "sus" yang membuat naik pitam
maupun senyum terima kasih dari sesiapa pun yang merelakan badannya
menjadi guru saya
saya sering berada di titik ingin cepat pergi dan tidak mau mengingat semua ini
sering ingin menyerah dan berbalik ke rumput lain yang bagi saya lebih indah
tapi malam ini
di depan ibu-ibu yang mengangkang pada dini hari
saya semakin jatuh cinta pada semua ini
dan tidak pernah bisa memikirkan diri saya sebagai penyandang gelar lain
selain gelar inisial dr.
semoga ini menjadi doa. dan diamini sejagat raya.
amin.
naa
Tuesday, July 12, 2011
sweet vermouth
taste like one sip of sweet wine in my imagination
barely closing my eyes and talk in my head
to you
zillion words coming to define you
tonight is sweet
one of my best nights
i am no drunk but feels like i am drunk
i still can read the label of your liquor
sweet vermouth, it says
your mouth
naa
(imaginary 'in the bar' scene, me holding a glass of, not so sweet, orange juice)
Thursday, July 7, 2011
perawatan wajah dan jakarta setan alas
dua minggu ini saya sedang bertugas, oh, bersekolah di bagian kesehatan kulit dan kelamin. Tapi so far lebih tepat disebut bagian kulit dan kecantikan, karena dua minggu berada di situ saya sudah fasih nyanyian peeling lah, krim malam lah, krim subuh pagi siang sore menjelang fajar... sebelum saya terjun mengenakan jas putih tangan pendek dan mengemban panggilan mbak koass, saya memang berminat betul jadi dokter di bidang ini, looks so fancy! tapi lama-lama bosan juga ya kalau mendengarkan keluhan "ini lho flek..", "dok, ini kok kurang kinclong.." yah some kind of like that.
Seperti di posting saya sebelum-sebelumnya, saya memang bilang saya sedang berobat untuk mengobati jerawat, tapi, kalau suatu hari nanti kulit saya sudah sekinclong satu set piring putih, saya rasanya malas berlama-lama di dokter mengoceh ini dan itu untuk mengeluhkan flek hitam.
saya nyaris seumur hidup mengemban predikat si kulit jelek, karena sejak lama nyamuk jatuh cinta sama darah saya, dan saya hobi menggaruk dan jadi banyak bekas luka. bagi mama saya itu kadang-kadang aib, bagi saya, ah sudah biasa, toh saya nyaris tidak pernah pakai bikini mini yang memamerkan seluruh permukaan kulit saya, hahaha.
Nah maka dari itu lah... saya merasa ah, jadi dokter kulit nanti mungkin saya akan malas bikin krim racikan dengan resep jenius... atau peeling, atau yang lainnya.
tapi saya tidak men-judge orang yang pergi ke dokter kulit untuk keluhan kosmetik, saya juga melakukannya loh, tapi ada sekian persen keluhannya non-kosmetik, yakni, saya takut mencatatkan nama saya di MURI dengan rekor penjawab terbanyak pertanyaan "kok jerawatan sih?", rasanya tidak keren rekor semacam itu.
saya selalu membayangkan diri saya menjadi dokter dengan hari kerja 4 hari. dokter dengan sedikit melepas kebesaran nama mulia profesi ini yang bertanggung jawab sepenuhnya untuk nyawa orang. saya ingin menjadi seperti customer service di bank, bukan seperti operator telkom 108 atau seperti mbah google yang sedia ditanyai 24 jam, atau seperti pak satpam, masih jaga malam. dalam 3 tahun + beberapa tahun entah berapa lagi nanti rasanya saya pasti kenyang jaga malam.
dan, yah, kalau cita-cita dan rejekinya cocok, mudah-mudahan bisa jadi dokter kulit. dan menemukan bagaimana caranya supaya tidak bosan dengan keluhan kosmetik dan jauh-jauh dari ibu-ibu super bawel tapi kulit wajahnya begitu cantik yang mengoceh tentang bagaimana kegiatan hariannya; anak-anaknya sekolah dimana; tetangga-tetangganya, yang rasanya lebih cocok pergi ke psikiater. secara pribadi, yang salah bagi saya bukan penyakit jerawat atau flek hitam, tapi cara kita menyampaikan keluhan tentang penyakit itu, akibat dari pencitraan mengenaskan yang diternak di masyarakat.
dan oh ya, keluhan utama saya waktu pertama kali berobat jerawat adalah : "Dok, sebagai anak yang berbakti saya mengikuti kemauan mama saya untuk menambal sulam kulit saya dari muka sampai telapak kaki"
dan oh satu lagi, kenapa saya sebut di judul post ini "jakarta setan alas" karena beberapa hari ini mobil tunggangan harta berharga saya juga sedang ditambal sulam, jadi saya terpaksa ngangkot dan bagi saya jakarta seperti setan alas nggak punya perasaan, ancur* deh kulit muka saya! hahahaha.
*mengikuti lirik lagu om Iwan Fals "kau memang setan alas nggak punya perasaan, ancuuuur"
naa
Sunday, June 26, 2011
Keledaimu lagi
hampir
saya sudah lihat dia tadi
sedang terbang mengitari bulan
saya memang dungu,
sayalah keledai dungu
dan dia keledai favorit saya
kami sedang terbang
dan
kami saling tersenyum
kami masih teman
selamat berputar, Donkey
naa